CATATAN KANGGURU

CANON LUNCURKA DIGITAL SLR CANGGIH, SERI EOS 30D, DENGAN 8.2 MP

November 29, 2008 · Leave a Comment

CANON LUNCURKA DIGITAL SLR CANGGIH, SERI EOS 30D, DENGAN 8.2 MP

T. Datascrip sebagai distributor tunggal Canon digital camera di Indonesia kembali meluncurkan produk unggulannya, Canon Digital EOS 30D – 8.2 megapiksel sebagai penerus EOS 20D. Canon Digital EOS 30D ditujukan sebagai solusi terpadu bagi fotografer profesional dan sangat cocok digunakan pada berbagai kondisi pengambilan foto.

“Nama Canon EOS telah dipercaya sejak lama oleh para fotografer profesional di seluruh dunia karena berkualitas tinggi,” kata Merry Harun, Director Canon Division PT. Datascrip. “Fotografer juga akan menikmati sistem lensa EOS yang lengkap beserta aksesoris yang dapat memperluas kreativitasnya,“ tambahnya.

Canon EOS 30D dilengkapi dengan fitur CMOS sensor 8.2-megapiksel, prosesor gambar DIGIC II dan optical low pass filter dengan konfigurasi 3-layer memberi hasil gambar yang sangat bagus dan berkualitas profesional. Fitur lainnya telah ditingkatkan dan diperbaharui, termasuk shutter yang kini telah mencapai hingga 100.000 cycles dan shutter lag 65 msec. Canon EOS 30D memiliki body yang terbuat dari magnesium alloy yang memastikan kekokohannya, tahan terhadap goncangan dan melindungi mesin di dalamnya.

Gambar Super & Operasional Kamera Super Cepat

Generasi ke-2 sensor CMOS 8.2-Megapiksel berukuran APS-C yang dibangun dan dikembangkan oleh Canon, memberikan 8.2 juta piksel efektif (3,520 horizontal x 2,342 vertical). Menghasilkan foto berkualitas tinggi karena sirkuit pengurang noise telah terintegrasi langsung pada sensor CMOS agar foto yang dihasilkan bebas noise. Untuk eksposure yang lebih lama di mana biasanya akan muncul noise elektrik, fungsi otomatis pengurang noise yang dapat diset pada kamera membuat foto bersih dan tajam bahkan pada malam hari. Rangkaian ISO speed dari 100 – 1600 dapat ditingkatkan hingga 3200 untuk kemudahan pengambilan gambar dengan berbagai kondisi pencahayaan.

Prosesor gambar khas Canon, DIGIC II menghasilkan pemrosesan gambar super cepat karena mempekerjakan teknologi algoritma Canon yang menghasilkan gambar cemerlang, beresolusi tinggi, natural, warna yang hidup, dan tentunya gradasi warna yang kaya. Tambahannya, prosesor DIGIC II mempercepat waktu pemrosesan gambar dengan menerjemahkan gambar secara instan. Waktu start up hanya 0.15 detik, continuous shooting 5fps (dengan pilihan 3fps untuk kebutuhan continuous shooting yang lebih lambat) dan burst frame yang lebih banyak hingga 11 frame (RAW) dan 30 frame (JPEG berukuran Large/Fine). EOS 30D sangat efisien dalam mengkonsumsi energi, sehingga dapat dipakai memotret lebih lama tanpa penukaran batere.

Peningkatan Fitur Sesuai Saran Pengguna

Berbagai peningkatan telah diintegrasikan pada EOS 30D, sesuai dengan keinginan pemakai Canon EOS digital SLR generasi sebelumnya. Fungsi spot-metering hadir dengan peningkatan pada mesin optik sehingga EOS 30D kini dilengkapi dengan 4 pilihan mode metering: Evaluative, Partial, Centre-weighted average dan Spot-metering. Untuk meningkatkan keluwesannya, pengaturan ISO pun lebih fleksibel. Kini pengguna bisa mencocokkan kondisi pengambilan foto yang berbeda-beda – pengaturan ISO dapat dilakukan dengan kenaikan 1/3-stop atau 1/2-stop. Fungsi 9-point AF dengan sensor f/5.6 dan AF f/2.8 (sensor horizontal) berpresisi tinggi menjamin pengambilan gambar berkali-kali dengan fokus yang cemerlang, sangat bermanfaat untuk aplikasi profesional. Fungsi playback hasil foto juga telah ditingkatkan pada EOS 30D. Pengguna dapat cek gambar mereka dengan menggunakan layar TFT seluas 2.5” dengan sudut pandang gambar yang lebih luas. Layar info yang lebih ditingkatkan juga memungkinkan pengguna untuk melihat informasi gambar seperti ukuran & format file juga histogram RGB.

Picture Style

Fungsi Picture Style mensimulasikan berbagai tipe film, membuat fotografer mampu meraih kualitas gambar optimum di berbagai kondisi pengambilan foto. Picture Style bisa diatur dalam 6 mode: Standard, Portrait, Landscape, Neutral, Faithful dan Monochrome. Dengan Picture Style, hasil respon warna menjadi terang seperti yang dihasilkan oleh film. Ketajaman, kekontrasan, tone dan saturasi warna dapat diatur dengan fungsi ini.

Pencetakan & Konektivitas

Canon EOS 30D kompatibel dengan PictBridge untuk pencetakan foto langsung dari kamera ke printer dan ditunjang dengan fitur konektivitas USB 2.0 Hi-Speed untuk menjamin kecepatan transfer file. Ketika digunakan dengan printer Canon dengan standar PictBridge, fungsi-fungsi PictBridge yang lebih ditingkatkan akan muncul, seperti 35-image contact sheet index printing; Exif information printing; fungsi Face-brightener, mampu mengikuti berbagai ukuran kertas dan berbagai tambahan lainnya. Fungsi cropping (trimming) juga tersedia untuk mengatur ukuran dan komposisi sesuai frame. Untuk keakuratan hasil pencetakan, EOS 30D juga memiliki kemampuan untuk mencetak sesuai dengan karakter warna kamera dengan bermacam fitur koreksi warna pada printer.

Aksesoris dan Software Opsional

Software yang terdapat pada kemasan Canon EOS 30D adalah EOS Digital Solution Disk 12.0 dan Digital Photo Professional 2.1 untuk pemrosesan dan pengeditan gambar. Aksesoris opsional pendamping EOS 30D yang ada termasuk Battery Grip (BG-E2) dan data verification kit (DVK-E2) yang akan dibutuhkan untuk otentifikasi gambar. Canon Digital EOS 30D (body only) dipasarkan seharga 1.450 USD [Rp.14 juta] atau bila dilengkapi Canon Lens EF-S 18-55mm menjadi 1.550 USD [Rp.15,5 juta].

Sumber : www.ilmukomputer.com

Disajikan kembali oleh:

Nunung Mistyanti_20_X MM1

Categories: Uncategorized

Memasuki Era Kamera Digital 8 Megapixel

November 29, 2008 · Leave a Comment

Memasuki Era Kamera Digital 8 Megapixel

PERKEMBANGAN kamera digital di satu sisi bisa dikatakan sangat cepat, tapi di sisi lain cukup lambat. Kamera digital, yang baru mulai diperkenalkan ke publik pada awal tahun 1990-an, kini sudah nyaris menggeser total kamera film. Namun, dari perkembangan besarnya jumlah pixel yang mampu direkam, perkembangannya membuat kita tidak sabar. Perkembangannya terlalu lambat dibandingkan dengan perkembangan jumlah pemakai.

PADA awal tahun 1990-an, kamera digital untuk jurnalis baru berkemampuan sekitar 1 megapixel. Kini rata-rata kamera di pasaran adalah 3 megapixel. Beberapa kamera sudah memakai 5 megapixel sampai 6 megapixel. Dan kini, setelah 14 tahun berlalu, baru beberapa kamera menyodorkan kemampuan 8 megapixel.

Memang saat ini pun sudah ada satu dua kamera dengan kemampuan rekam di atas 10 megapixel. Namun, ini bukanlah sesuatu yang bisa dibahas secara umum karena merupakan kamera-kamera khusus.

Banyak orang mengatakan bahwa perkembangan jumlah pixel ini terlalu lambat. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa kita tidak perlu pixel yang terlalu banyak untuk mendapatkan foto bagus. Perdebatan bisa panjang. Mana yang benar?

Maka, sebelum kita membahas masalah kehadiran era 8 megapixel ini, kita pahami dulu makna besarnya pixel pada fotografi digital.

Sebuah foto digital terdiri dari elemen-elemen pembentuk gambar yang disebut pixel. Perhatikan Gambar 1. Gambar itu kita anggap sebuah foto digital yang sisi panjangnya terdiri dari 10 pixel, sementara sisi lebarnya terdiri dari 5 pixel. Jadi, gambar 1 adalah sebuah foto digital yang “terbuat” dari 10 x 50 atau 50 pixel.

Sebuah foto digital yang berukuran 2448 x 3274 pixel seperti terlihat dalam Foto 1 adalah foto yang berukuran 2448 x 3274 alias 8.014.752 pixel atau sekitar 8 juta pixel atau 8 megapixel. Kamera dengan kemampuan rekam 8 megapixel bisa merekam gambar dengan jumlah pixel sekitar 8 juta buah. Demikian pula kamera 6 megapixel mampu merekam gambar dengan jumlah pixel sekitar 6 juta buah.

Kepadatan gambar

Dengan jumlah pixel yang kita miliki, kita bisa membuat bermacam gambar dengan aneka “kepadatan”. Kepadatan pixel dalam sebuah gambar biasanya dinyatakan dalam satuan DPI (dot per inch) atau jumlah pixel per incinya. Satu inci sekitar 2,5 sentimeter.

Bagi kita di Indonesia, DPI ini cukup menyulitkan sebab untuk ukuran foto kita biasa memakai ukuran metriks dalam sentimeter, tapi saat membicarakan kepadatan gambar kita memakai inci. Namun kalau sudah terbiasa, satuan inci dalam DPI tidak akan terlalu merepotkan kita.

DPI diperlukan untuk menentukan peruntukan foto kita. Kalau foto cuma untuk dilihat di layar komputer VGA, kepadatan 72 DPI sudah cukup. Jadi sebuah foto 720 x 360 pixel kalau dibuka di layar monitor komputer masih cukup bagus sampai ukuran 720/72 x 360/72, alias 10 inci x 5 inci, alias 25 x 12,5 sentimeter.

Jadi, kalau foto 720 x 360 pixel ini kita buka di komputer sampai berukuran 40 x 20 sentimeter, kepadatan yang terjadi kurang dari 72 DPI. Gambar akan tampak tidak tajam, tepi-tepi semua bendanya tidak tegas.

Foto untuk dipakai di surat kabar umumnya memerlukan kepadatan 150 DPI. Maka, foto dengan ukuran 1500 x 900 pixel bisa dipakai di koran sampai ukuran 1500/150 x 900/150, atau 10 inci x 6 inci, atau 25 x 15 sentimeter.

Sedangkan untuk dicetak di kertas foto (agar sama dengan cetakan dari film negatif biasa), sebuah foto minimal punya kepadatan 300 DPI. Ada catatan penting untuk ini. Kepadatan 300 DPI hanya mutlak berlaku untuk cetakan kecil. Artinya, untuk kita lihat dalam jarak dekat seperti kita membaca buku.

Adapun untuk cetakan besar dan sangat besar (misalnya 40 x 60 sentimeter), kepadatan 100 DPI pun masih bisa diterima karena kita melihatnya tidak dari dekat.

Dari beberapa pengalaman cetak-mencetak foto, bisa dikatakan bahwa kalau sebuah foto digital bagus sekali dicetak dalam 10 R (20 x 25 cm), sebenarnya ia bisa dicetak sampai ukuran berapa saja asal untuk dinikmati dari jarak pandang yang sesuai dengan ukurannya. Kalau ia dicetak sebesar poster 100 cm x 125 cm, tentunya kita harus melihatnya dari jarak paling tidak 3 meter bukan dipelototi dari jarak 30 sentimeter selayaknya foto kartu pos.

Maka, sebenarnya hasil foto dari kamera 3 megapixel, yang bagus sekali kalau dicetak dalam 10 R, tetap bagus untuk dicetak sebesar apa pun. Singkat kata, 3 megapixel sudah cukup. Lalu untuk apa 8 megapixel atau yang lebih besar lagi?

“Cropping”

Dalam realitas sehari-hari, kita tidak selalu bisa memotret dengan bingkai ideal. Banyak bagian dari foto kita sebenarnya tidak perlu. Kadang kala kita memotret dengan objek terlalu kecil akibat lensa yang kita pakai terlalu pendek.

Untuk hal-hal seperti ini, kita sering harus melakukan cropping atau pemotongan sebagian dari foto untuk mendapatkan foto yang lebih kuat. Ada kalanya pula, kita perlu mengambil sebagian kecil saja dari sebuah foto untuk mendapatkan detail yang lebih jelas. Sebagai contoh Foto 2. Seorang ibu yang sedang menjemur kain celupan kurang menunjukkan wajah sang ibu. Saat kita potong di bagian kanan atas saja, wajah sang ibu terlihat jelas.

Dalam sebuah proses cropping, foto potongan jelas mempunyai pixel yang jauh lebih sedikit daripada induknya. Kalau pada foto asli pixelnya sudah terlalu sedikit, apalagi hasil potongannya.

Jadi, foto digital dengan megapixel besar punya keleluasaan tinggi untuk diolah. Selain itu, foto digital dengan megapixel yang besar jelas lebih tajam gambarnya kalau dicetak besar. Maka, makin besar megapixel sebuah kamera, makin baguslah dia. Benarkan demikian?

Sekilas memang benar, namun kenyataannya tidaklah semudah itu. Dalam sebuah pemotretan digital, ada waktu yang hilang saat hasil potretan disimpan di memori kamera (misalnya di kartu kameranya). Foto yang ukurannya besar memakan waktu yang lebih banyak, juga memerlukan tempat penyimpanan lebih besar.

Pada sebuah kamera yang bisa diatur ukuran gambarnya, kita bisa merasakan beda waktu yang diperlukan saat kita memotret dengan aneka ukuran.

Contoh yang paling signifikan adalah dari produk Nikon yang semula bernama D1. Saat D1 dikembangkan, ia dibagi 2 jenis. D1-X adalah kamera dengan 6 megapixel, namun reaksinya lambat, dan D1-H yang reaksi dan kemampuan rekamnya cepat, tapi cuma 2,75 megapixel. Wartawan olahraga jelas lebih memerlukan D1-H daripada D1-X karena dia butuh reaksi. Sedangkan untuk pemotretan yang mengutamakan kehalusan gambar, D1-X adalah pilihannya seperti yang dilakukan majalah National Geographic pada edisi “100 Tahun Penerbangan” tahun lalu.

Hal lain yang harus diingat adalah harga pixel sangatlah mahal. Kamera dengan 6 megapixel harganya bukanlah dua kali kamera dengan 3 megapixel. Kenaikan harga dalam ukuran pixel ini bukanlah dalam deret hitung, melainkan deret ukur, mirip harga bukaan diafragma pada lensa.

Masa depan

Di masa depan, ukuran pixel pasti akan terus bertambah karena manusia pasti ingin gambar yang makin halus dan halus lagi. Sejalan dengan itu, harus ada perkembangan teknologi agar penyimpanan foto dengan megapixel besar bisa cepat. Juga diperlukan kartu-kartu memori yang lebih besar. Saat ini compact flash yang ada di pasaran sudah mencapai 4 gigabyte, sementara yang 8 gigabyte sudah akan masuk ke pasaran.

Rubrik kali ini mengangkat tiga kamera dalam kelas 8 megapixel yang sudah ada di pasaran. Dua kamera adalah kelas di bawah 10 juta rupiah, yaitu Sony F828 dan Konica Minolta AS, satu lagi kelas 50 juta rupiah Canon EOS-1D Mark II. Di pasaran masih ada lagi kamera 8 megapixel kelas di bawah 10 juta rupiah, yaitu Canon A-1. Selain itu, juga ada beberapa lagi, tapi pembahasan pada tiga kamera ini cukup penting mengingat keunggulan masing-masing.

Canon EOS-1D Mark II jelas bukan untuk pemakai umum. Selain harganya sekitar 50 juta rupiah, belum termasuk lensa dan peralatan-peralatan lainnya, ukurannya pun bukan untuk bawaan sampingan. Kasarnya, kamera ini hanya untuk profesional.

EOS-1D Mark II bisa dikatakan sebagai kamera digital SLR (Single Lens Reflex) dengan continous shooting tercepat, yaitu 8,5 frame per detik pada resolusi 8,2 megapixel sampai 40 frame berturut-turut. Ia didukung penggunaan teknologi barum seperti prosesor DIGIC II (Digital Imaging Core), sensor CMOS (Complementary Metal Oxide Semiconductor), dan sistem buffer extra large yang lebih canggih dari generasi sebelumnya, Canon EOS 1 DS.

Adapun Sony F828 yang merupakan pengembangan dari F717 punya kecanggihan dalam pengolahan warna. Kalau EOS-1D Mark II punya penangkap imaji CMOS, Sony memakai CCD khusus yang mereka sebut sebagai Super HAD CCD. Kepanjangan HAD CCD tidak dipaparkan Sony pada brosur-brosur mereka, tapi intinya, sensor Sony F828 merekam gambar dalam 4 lapisan, yaitu RGB plus E, alias Red Green Blue plus Emerald. Hal yang dibanggakan Sony dari F828 adalah mutu warna gambar yang dihasilkan. F828 hanya mampu memberondong tujuh gambar nonstop dengan interval 0,5 detik tiap gambarnya.

Keunggulan F828 yang tidak boleh dilupakan adalah lensa Carl Zeiss dari Jerman yang sudah menjadi legenda di kalangan penggemar fotografi.

Las but not least, Konica Minolta AS, yang dihasilkan dari dua perusahaan fotografi besar Jepang ini, punya keunggulan dalam mengurangi efek guncangan yang mereka sebut “anti-shake”. Dengan kamera ini, pemotretan pada kecepatan sangat lambat tanpa tripod masih menghasilkan gambar yang tajam seakan dipotret dengan kecepatan tinggi. (Arbain Rambey/Johnny TG)

Disajikan kembali oleh:

Nunung Mistyanti_20_XMM1

Search :

Categories: Uncategorized

Protected: laptop teknologi

November 29, 2008 · Enter your password to view comments

This post is password protected. To view it please enter your password below:


Categories: Uncategorized

TEKNOLOGI MONITOR

November 29, 2008 · Leave a Comment

Teknologi Monitor: Dulu, Kini dan Masa Depan

Monitor atau yang juga disebut sebagai “computer display” merupakan komponen output yang digunakan untuk menampilkan teks atau gambar ke layar sehingga dapat dinikmati oleh pemakai.

1.1. Sejarah Monitor
Pada generasi awal komputer, belum menggunakan monitor khusus seperti sekarang ini. Komputer waktu itu terhubung dengan TV keluarga sebagai layar penampil dari pengolahan data yang dilakukannya. Yang cukup menjadi masalah adlaah bahwa resolusi monitor TV saat itu hanya mampu menampilkan 40 karakter secara horisontal pada layar.

Monitor khusus untuk komputer dikeluarkan oleh IBM PC, yang pada awalnya memiliki resolusi 80 X 25 dengan kemampuan warna “green monochrome”. Monitor ini sudah mampu menampilkan hasil yang lebih terang, jelas dan lebih stabil.

Pada generasi berikutnya muncul mono graphics (MGA/MDA) yang memiliki 720×350. Selanjutnya di awal tahun 1980-an muncul jenis monitor CGA dengan range resolusi dari 160×200 sampai 640×200 dan kemampuan warna antara 2 sampai 16 warna.

Monitor EGA muncul dengan resolusi yang lebih bagus yaitu 640×350. Monitor jenis ini cukup stabil sampai berikutnya munculnya generasi komputer Windows.

Semua jenis monitor ini menggunakan digital video – TTL signals dengan discrete number yang spesifik untuk mengatur warna dan intensitas cahaya. Antara video adapter dan monitor memiliki 2, 4, 16, atau 64 warna tergantung standard grafik yang dimiliki.

Selanjutnya dengan diperkenalkannya standard monitor VGA, tampilan grafis dari sebuah Personal Computer menjadi nyata. VGA dan generasi-generasi yang berhasil sesudahnya seperti PGA, XGA, atau SVGA merupakan standard analog video dengan sinyal R (Red), G (Green) dan B (Blue) dengan continuous voltage dan continuous range pada pewarnaan. Secara prinsip analog monitor memungkinkan penggunaan full color dengan intensitas yang tinggi.

Generasi monitor terbaru adalah teknologi LCD yang tidak lagi menggunakan tabung elektron CRT tetapi menggunakan sejenis kristal liquid yang dapat berpendar. Teknologi ini menghasilkan monitor yang dikenal dengan nama Flat Panel Display dengan layar berbentuk pipih, dan kemampuan resolusi yang tinggi.

1.2. Berbagai Jenis Monitor
Dengan perkembangannya yang sangat pesat, saat ini terdapat tiga jenis teknologi monitor. Ketiga golongan teknologi tersebut adalah CRT (Cathode Ray Tube), Liquid Crystal Display (LCD) dan Plasma gas.

a. Cathode Ray Tube
Pada monitor CRT, layar penampil yang digunakan berupa tabung sinar katoda. Teknologi ini memunculkan tampilan pada monitor dengan cara memancarkan sinar elektron ke suatu titik di layar. Sinar tersebut akan diperkuat untuk menampilkan sisi terang dan diperlemah untuk sisi gelap.

Teknologi CRT merupakan teknologi termurah dibanding dengan kedua teknologi yang lain. Meski demikian resolusi yang dihasilkan sudah cukup baik untuk berbagai keperluan. Hanya saja energi listrik yang dibutuhkan cukup besar dan memiliki radiasi elektromagnetik yang cukup kuat.

b. Liquid Crystal Display
Monitor LCD tidak lagi menggunakan tabung elektron tetapi menggunakan sejenis kristal liquid yang dapat berpendar. Teknologi ini menghasilkan monitor yang dikenal dengan nama Flat Panel Display dengan layar berbentuk pipih, dan kemampuan resolusi yang lebih tinggi dibandingkan dengan CRT. Karena bentuknya yang pipih, maka monitor jenis flat tersebut menggunakan energi yang kecil dan banyak digunakan pada komputer-komputer portabel.

Kelebihan yang lain dari monitor LCD adalah adanya brightness ratio yang telah menyentuh angka 350 : 1. Brigtness ratio merupakan perbandingan antara tampilan yang paling gelap dengan tampilan yang paling terang.

Liquid Crystal Display menggunakan kristal liquid yang dapat berpendar. Kristal cair merupakan molekul organik kental yang mengalir seperti cairan, tetapi memiliki struktur spasial seperti kristal. (ditemukan pakar Botani Austria – Rjeinitzer) tahun 1888. Dengan menyorotkan sinar melalui kristal cair, intensitas sinar yang keluar dapat dikendalikan secara elektrik sehingga dapat membentuk panel-panel datar.

Lapisan-lapisan dalam sebuah LCD:

* Polaroid belakang
* Elektroda belakang
* Plat kaca belakang
* Kristal Cair
* Plat kaca depan
* Elektroda depan
* Polaroid depan

Elektroda dalam lapisan tersebut berfungsi untuk menciptakan medan listrik pada kristal cair, sedangkan polaroid digunakan untuk menciptakan suatu polarisasi.

Dari sisi harga, monitor LCD memang jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan monitor CRT. Dan beberapa kelemahan yang masih dimilikinya seperti kurang mampu digunakan untuk bekerja dalam berbagai resolusi, seperti misalnya monitor dengan resolusi 1024 X 768 akan terkesan agak buram jika dipekerjakan pada resolusi 640 X 420. Tatapi akhir-akhir ini kelemahan tersbut sudah mulai di atasi dengan teknik anti aliasing.

c. Plasma Gas
Monitor jenis ini menggabungkan teknologi CRT dengan LCD. Dengan teknologi yang dihasilkan, mampu membuat layar dengan ketipisan menyerupai LCD dan sudut pandang yang dapat selebar CRT.

Plasma gas juga menggunakan fosfor seperti halnya pada teknologi CRT, tetapi layar pada plasma gas dapat perpendar tanpa adanya bantuan cahaya di belakang layar. Hal itu akan membuat energi yang diserap tidak sebesar monitor CRT. Kontras warna yang dihasilkan pun lebih baik dari LCD. Teknologi plasma gas ini sering bisa kita jumpai pada saat pertunjukan-pertunjukan musik atau pertandingan-pertandingan olahraga yang spektakuler. Di sana terdapat layar monitor raksasa yang dipasang pada sudut-sudut arena tertentu. Itulah monitor yang menggunakan teknologi plasma gas.

Sumber : sony-ak.com

ANALISA : Monitor atau yang juga disebut sebagai “computer display” merupakan komponen output yang digunakan untuk menampilkan teks atau gambar ke layar sehingga dapat dinikmati oleh pemakai.
Disajikan ulang oleh : Rizki Ismaya Putri_27_X MM I

Categories: Uncategorized

PERKEMBANGAN USB FLASH DRIVE

November 29, 2008 · Leave a Comment

Perkembangan teknologi informasi begitu amat ditunggu oleh dunia informasi dan telekomunikasi. Perkembangan tersebut amat dinanti-nanti dengan harapan dapat membantu proses-proses yang ada dalam sebuah organisasi. Dengan bermodalkan berjuta-juta dollar amerika,ataupun bahkan bermilyar-milyar dollar amerika, para peneliti dan perusahaan-perusahaan teknologi rela merogoh kocek mereka demi mendapatkan teknologi yang paling ungul dan paling modern. Teknologi memory adalah salah satu dari sekian banyak jenis teknologi informasi yang perkembangannya sangat pesat dewasa ini. Alasan yang mendukung teknologi ini adalah kebutuhan akan sebuah storage penyimpanan yang handal dan cepat serta dengan harga yang terjangkau. Oleh karena itu, penelitian akan memory berlangsung cepat dan juga menguntungkan dalam segi bisnis.Salah satu teknologi informasi yang paling menarik adalah teknologi USB. USB atau yang lebih dikenal sebagai Universal Serial Bus adalah sebuah jalur koneksi serial elektronik yang diciptakan dengan tujuan untuk menghubungkan segala macam device yang bersifat eksternal. Pada awalnya USB diciptakan untuk menghubungkan Smart Phone dengan Personal Computer (PC), namun pada akhirnya penggunaannya berkembang bahkan sampai kepada device seperti mouse, printer, speaker,MP3 player, dll. Teknologi USB sendiri sekarang telah mencapai teknologi USB 3.0 bahkan sekarang sedang dikembangkan WUSB (Wireless Universal Serial Bus).

Salah satu teknologi USB yang paling digemari adalah teknologi USB flash drive. Sebuah teknologi memory yang benar-benar ada karena kebutuhan pasar. Dengan kapasitasnya yang besar, ukuran yang kecil, serta kecepatan yang baik, USB Flash drive banyak diminati oleh masyarakat. USB Flash drive berfungsi sebagai media penyimpanan yang portable. Walaupun tidak sebesar external hard drive tetapi dengan ukurannya yang kecil,teknologi ini menjadi semakin banyak peminatnya. USB flash drive juga dikenal dengan nama Thumb Drive, Jump Drive, Pen Drive, Key Drive, Token, atau secara mudah dapat dikenal dengan sebutan USB drive. Tidak seperti teknologi removable storage memory lainnya, USB dapat berjalan tanpa bantuan tenaga tambahan, tidak memerlukan proses booting, dan yang terpenting adalah tidak bergantung kepada salah satu macam platform sistem operasi. Dalam sejarahnya, USB Flash Drive memiliki masalah yang berat dalam status kepemilikan hak ciptanya. Banyak perusahaan besar yang mengklaim bahwa USB drive adalaha teknologi yang mereka buat. Yang pertama memproduksinya sendiri adalah perusahaan Trek dengan merk dagang Thumbdrive. Perusahaan inilah yang menyatakan dengan serius bahwa merekalah penemu pertama teknologi ini. Perusahaan ini bersaing dengan perusahaan seperti SanDisk, IBM, Netac, dan lainya dalam memperoleh hak paten atas teknologi ini.Perjalanan teknologinya sendiri bisa dibilang amat cepat. Mulai dari teknologi USB 1.0 sampai dengan sekarang yaitu USB 3.0 bahkan menembus ke arah WUSB atau Wireless Universal Serial Bus.

Perjalanan dari versi 1.0 ke 2.0 hanya membutuhkan waktu satu tahun. Hal ini membuktikan amat pesatnya perkembangan teknologi ini. Versi 2.0 sendiri sudah cukup memuaskan para penggemarnya. Versi 2.0 ini juga sering disebut sebagai Hi-Speed USB karena memiliki kecepatan transfer sebesar 480 Mbits/detik jauh meninggalkan pendahulunya yang hanya memiliki kecepatan 12 Mbits/ detik. USB Flash drive memiliki beberapa komponen. Komponen-komponen tersebut dapat dipisahkan dalam dua golongan yaitu komponen penting dan juga komponen tambahan. Komponen penting yang harus ada dalam sebuah USB Flash drive adalah USB connector, USB mass storage controller device, Flash memory chip, dan Crystal Oscillator. Komponen ini dilengkapi oleh komponen tambahan yaitu Test points, LED, Unpopulated space, USB Connector Cover, dan juga transport Aid. Komponen-komponen ini bergabung membentuk satu Flash Drive secara utuh.

Untuk versi 3.0 sendiri masih dalam pengembangan dalam penelitian. Versi terbaru ini diramalkan dapat meramaikan pasar USB Flash drive dan juga memberikan keuntungan yang banyak bagi teknologi informasi. Versi ini dibuat dengan harapan dapat menyaingi sebuah teknologi koneksi baru yaitu Firewire. Versi ini diharapkan dapat mengokohkan eksitensi USB dan menyaingi teknologi Firewire yang sduah banyak dilirik oleh vendor-vendor IT. Dalam pengembangannya sendiri, versi ini dikerjakan berbarengan dengan pengerjaan proyek Wireless Universal Serial Bus yang akan menghadirkan terobosan baru dalam teknologi USB.
ANALISA:Perkembangan teknologi informasi begitu amat ditunggu oleh dunia informasi dan telekomunikasi. Perkembangan tersebut amat dinanti-nanti dengan harapan dapat membantu proses-proses yang ada dalam sebuah organisasi.

Disajikan ulang oleh:Rizki Ismaya Putri_27_X MM I

Categories: Uncategorized