Memasuki Era Kamera Digital 8 Megapixel

Memasuki Era Kamera Digital 8 Megapixel

PERKEMBANGAN kamera digital di satu sisi bisa dikatakan sangat cepat, tapi di sisi lain cukup lambat. Kamera digital, yang baru mulai diperkenalkan ke publik pada awal tahun 1990-an, kini sudah nyaris menggeser total kamera film. Namun, dari perkembangan besarnya jumlah pixel yang mampu direkam, perkembangannya membuat kita tidak sabar. Perkembangannya terlalu lambat dibandingkan dengan perkembangan jumlah pemakai.

PADA awal tahun 1990-an, kamera digital untuk jurnalis baru berkemampuan sekitar 1 megapixel. Kini rata-rata kamera di pasaran adalah 3 megapixel. Beberapa kamera sudah memakai 5 megapixel sampai 6 megapixel. Dan kini, setelah 14 tahun berlalu, baru beberapa kamera menyodorkan kemampuan 8 megapixel.

Memang saat ini pun sudah ada satu dua kamera dengan kemampuan rekam di atas 10 megapixel. Namun, ini bukanlah sesuatu yang bisa dibahas secara umum karena merupakan kamera-kamera khusus.

Banyak orang mengatakan bahwa perkembangan jumlah pixel ini terlalu lambat. Namun, ada pula yang mengatakan bahwa kita tidak perlu pixel yang terlalu banyak untuk mendapatkan foto bagus. Perdebatan bisa panjang. Mana yang benar?

Maka, sebelum kita membahas masalah kehadiran era 8 megapixel ini, kita pahami dulu makna besarnya pixel pada fotografi digital.

Sebuah foto digital terdiri dari elemen-elemen pembentuk gambar yang disebut pixel. Perhatikan Gambar 1. Gambar itu kita anggap sebuah foto digital yang sisi panjangnya terdiri dari 10 pixel, sementara sisi lebarnya terdiri dari 5 pixel. Jadi, gambar 1 adalah sebuah foto digital yang “terbuat” dari 10 x 50 atau 50 pixel.

Sebuah foto digital yang berukuran 2448 x 3274 pixel seperti terlihat dalam Foto 1 adalah foto yang berukuran 2448 x 3274 alias 8.014.752 pixel atau sekitar 8 juta pixel atau 8 megapixel. Kamera dengan kemampuan rekam 8 megapixel bisa merekam gambar dengan jumlah pixel sekitar 8 juta buah. Demikian pula kamera 6 megapixel mampu merekam gambar dengan jumlah pixel sekitar 6 juta buah.

Kepadatan gambar

Dengan jumlah pixel yang kita miliki, kita bisa membuat bermacam gambar dengan aneka “kepadatan”. Kepadatan pixel dalam sebuah gambar biasanya dinyatakan dalam satuan DPI (dot per inch) atau jumlah pixel per incinya. Satu inci sekitar 2,5 sentimeter.

Bagi kita di Indonesia, DPI ini cukup menyulitkan sebab untuk ukuran foto kita biasa memakai ukuran metriks dalam sentimeter, tapi saat membicarakan kepadatan gambar kita memakai inci. Namun kalau sudah terbiasa, satuan inci dalam DPI tidak akan terlalu merepotkan kita.

DPI diperlukan untuk menentukan peruntukan foto kita. Kalau foto cuma untuk dilihat di layar komputer VGA, kepadatan 72 DPI sudah cukup. Jadi sebuah foto 720 x 360 pixel kalau dibuka di layar monitor komputer masih cukup bagus sampai ukuran 720/72 x 360/72, alias 10 inci x 5 inci, alias 25 x 12,5 sentimeter.

Jadi, kalau foto 720 x 360 pixel ini kita buka di komputer sampai berukuran 40 x 20 sentimeter, kepadatan yang terjadi kurang dari 72 DPI. Gambar akan tampak tidak tajam, tepi-tepi semua bendanya tidak tegas.

Foto untuk dipakai di surat kabar umumnya memerlukan kepadatan 150 DPI. Maka, foto dengan ukuran 1500 x 900 pixel bisa dipakai di koran sampai ukuran 1500/150 x 900/150, atau 10 inci x 6 inci, atau 25 x 15 sentimeter.

Sedangkan untuk dicetak di kertas foto (agar sama dengan cetakan dari film negatif biasa), sebuah foto minimal punya kepadatan 300 DPI. Ada catatan penting untuk ini. Kepadatan 300 DPI hanya mutlak berlaku untuk cetakan kecil. Artinya, untuk kita lihat dalam jarak dekat seperti kita membaca buku.

Adapun untuk cetakan besar dan sangat besar (misalnya 40 x 60 sentimeter), kepadatan 100 DPI pun masih bisa diterima karena kita melihatnya tidak dari dekat.

Dari beberapa pengalaman cetak-mencetak foto, bisa dikatakan bahwa kalau sebuah foto digital bagus sekali dicetak dalam 10 R (20 x 25 cm), sebenarnya ia bisa dicetak sampai ukuran berapa saja asal untuk dinikmati dari jarak pandang yang sesuai dengan ukurannya. Kalau ia dicetak sebesar poster 100 cm x 125 cm, tentunya kita harus melihatnya dari jarak paling tidak 3 meter bukan dipelototi dari jarak 30 sentimeter selayaknya foto kartu pos.

Maka, sebenarnya hasil foto dari kamera 3 megapixel, yang bagus sekali kalau dicetak dalam 10 R, tetap bagus untuk dicetak sebesar apa pun. Singkat kata, 3 megapixel sudah cukup. Lalu untuk apa 8 megapixel atau yang lebih besar lagi?

“Cropping”

Dalam realitas sehari-hari, kita tidak selalu bisa memotret dengan bingkai ideal. Banyak bagian dari foto kita sebenarnya tidak perlu. Kadang kala kita memotret dengan objek terlalu kecil akibat lensa yang kita pakai terlalu pendek.

Untuk hal-hal seperti ini, kita sering harus melakukan cropping atau pemotongan sebagian dari foto untuk mendapatkan foto yang lebih kuat. Ada kalanya pula, kita perlu mengambil sebagian kecil saja dari sebuah foto untuk mendapatkan detail yang lebih jelas. Sebagai contoh Foto 2. Seorang ibu yang sedang menjemur kain celupan kurang menunjukkan wajah sang ibu. Saat kita potong di bagian kanan atas saja, wajah sang ibu terlihat jelas.

Dalam sebuah proses cropping, foto potongan jelas mempunyai pixel yang jauh lebih sedikit daripada induknya. Kalau pada foto asli pixelnya sudah terlalu sedikit, apalagi hasil potongannya.

Jadi, foto digital dengan megapixel besar punya keleluasaan tinggi untuk diolah. Selain itu, foto digital dengan megapixel yang besar jelas lebih tajam gambarnya kalau dicetak besar. Maka, makin besar megapixel sebuah kamera, makin baguslah dia. Benarkan demikian?

Sekilas memang benar, namun kenyataannya tidaklah semudah itu. Dalam sebuah pemotretan digital, ada waktu yang hilang saat hasil potretan disimpan di memori kamera (misalnya di kartu kameranya). Foto yang ukurannya besar memakan waktu yang lebih banyak, juga memerlukan tempat penyimpanan lebih besar.

Pada sebuah kamera yang bisa diatur ukuran gambarnya, kita bisa merasakan beda waktu yang diperlukan saat kita memotret dengan aneka ukuran.

Contoh yang paling signifikan adalah dari produk Nikon yang semula bernama D1. Saat D1 dikembangkan, ia dibagi 2 jenis. D1-X adalah kamera dengan 6 megapixel, namun reaksinya lambat, dan D1-H yang reaksi dan kemampuan rekamnya cepat, tapi cuma 2,75 megapixel. Wartawan olahraga jelas lebih memerlukan D1-H daripada D1-X karena dia butuh reaksi. Sedangkan untuk pemotretan yang mengutamakan kehalusan gambar, D1-X adalah pilihannya seperti yang dilakukan majalah National Geographic pada edisi “100 Tahun Penerbangan” tahun lalu.

Hal lain yang harus diingat adalah harga pixel sangatlah mahal. Kamera dengan 6 megapixel harganya bukanlah dua kali kamera dengan 3 megapixel. Kenaikan harga dalam ukuran pixel ini bukanlah dalam deret hitung, melainkan deret ukur, mirip harga bukaan diafragma pada lensa.

Masa depan

Di masa depan, ukuran pixel pasti akan terus bertambah karena manusia pasti ingin gambar yang makin halus dan halus lagi. Sejalan dengan itu, harus ada perkembangan teknologi agar penyimpanan foto dengan megapixel besar bisa cepat. Juga diperlukan kartu-kartu memori yang lebih besar. Saat ini compact flash yang ada di pasaran sudah mencapai 4 gigabyte, sementara yang 8 gigabyte sudah akan masuk ke pasaran.

Rubrik kali ini mengangkat tiga kamera dalam kelas 8 megapixel yang sudah ada di pasaran. Dua kamera adalah kelas di bawah 10 juta rupiah, yaitu Sony F828 dan Konica Minolta AS, satu lagi kelas 50 juta rupiah Canon EOS-1D Mark II. Di pasaran masih ada lagi kamera 8 megapixel kelas di bawah 10 juta rupiah, yaitu Canon A-1. Selain itu, juga ada beberapa lagi, tapi pembahasan pada tiga kamera ini cukup penting mengingat keunggulan masing-masing.

Canon EOS-1D Mark II jelas bukan untuk pemakai umum. Selain harganya sekitar 50 juta rupiah, belum termasuk lensa dan peralatan-peralatan lainnya, ukurannya pun bukan untuk bawaan sampingan. Kasarnya, kamera ini hanya untuk profesional.

EOS-1D Mark II bisa dikatakan sebagai kamera digital SLR (Single Lens Reflex) dengan continous shooting tercepat, yaitu 8,5 frame per detik pada resolusi 8,2 megapixel sampai 40 frame berturut-turut. Ia didukung penggunaan teknologi barum seperti prosesor DIGIC II (Digital Imaging Core), sensor CMOS (Complementary Metal Oxide Semiconductor), dan sistem buffer extra large yang lebih canggih dari generasi sebelumnya, Canon EOS 1 DS.

Adapun Sony F828 yang merupakan pengembangan dari F717 punya kecanggihan dalam pengolahan warna. Kalau EOS-1D Mark II punya penangkap imaji CMOS, Sony memakai CCD khusus yang mereka sebut sebagai Super HAD CCD. Kepanjangan HAD CCD tidak dipaparkan Sony pada brosur-brosur mereka, tapi intinya, sensor Sony F828 merekam gambar dalam 4 lapisan, yaitu RGB plus E, alias Red Green Blue plus Emerald. Hal yang dibanggakan Sony dari F828 adalah mutu warna gambar yang dihasilkan. F828 hanya mampu memberondong tujuh gambar nonstop dengan interval 0,5 detik tiap gambarnya.

Keunggulan F828 yang tidak boleh dilupakan adalah lensa Carl Zeiss dari Jerman yang sudah menjadi legenda di kalangan penggemar fotografi.

Las but not least, Konica Minolta AS, yang dihasilkan dari dua perusahaan fotografi besar Jepang ini, punya keunggulan dalam mengurangi efek guncangan yang mereka sebut “anti-shake”. Dengan kamera ini, pemotretan pada kecepatan sangat lambat tanpa tripod masih menghasilkan gambar yang tajam seakan dipotret dengan kecepatan tinggi. (Arbain Rambey/Johnny TG)

Disajikan kembali oleh:

Nunung Mistyanti_20_XMM1

Search :

About pson

spirit my life is a science and teknology
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s