Songsong Era Pertelevisian Baru

Saat ini sebenarnya pertelevisian Indonesia sedang memasuki saat-saat yang mendebarkan dengan adanya rencana penerapan penyiaran televisi secara digital. Kondisinya sangat berbeda dengan negara-negara maju yang wilayahnya kecil dan penduduknya berpenghasilan besar. Kemiskinan menyebabkan hal yang sebenarnya bersifat teknis itu menjadi sangat sensitif.

Sekitar 10 tahun lalu gagasan mengubah sistem penyiaran (transmisi) secara analog menjadi digital sempat meresahkan masyarakat karena khawatir pesawat televisi miliknya tidak bisa digunakan lagi. Apalagi bagi yang baru membeli pesawat TV karena pada saat itu era televisi swasta juga baru mulai menggeliat.

Situasi waktu itu memang terdorong oleh aktivitas stasiun TV swasta baru (analog) yang masih harus berhadapan dengan para pemilik televisi hitam-putih, di mana tayangan program stasiun TV yang baru mulai beroperasi harus juga bisa ditangkap oleh pesawat TV hitam-putih, yang masih dimiliki sebagian masyarakat saat itu.

Era hitam-putih memang sudah jauh berkurang sekarang ini karena memang sudah hampir tidak ada produk TV hitam-putih yang diproduksi lagi. Secara relatif berkurang karena jumlah pesawat berwarna secara persentase menjadi jauh lebih besar, sehingga ketika ada isu pemancar TV akan diubah ke sistem digital waktu itu menjadi sangat sensitif. Dan, kekhawatiran ini bisa muncul kembali ketika perekonomian masyarakat tidak juga membaik saat pemerintah merencanakan migrasi ke siaran TV secara digital.

Saat ini seluruh pemancar TV (terrestrial) yang ada di Indonesia masih analog sehingga kebanyakan pesawat TV penerima juga masih analog meski memiliki banyak fitur digital. Tentu migrasi tersebut akan dengan mudah dikatakan pesawat penerima itu tidak bisa digunakan lagi menangkap siaran TV digital, kecuali diberikan perangkat tambahan untuk mengubah modulasi digital ke analog.

Di dunia sekarang ini baru ada dua negara yang seluruh stasiun televisinya sudah digital, yaitu Luksemburg (sejak 1 September 2006) dan Belanda (11 Desember 2006). Tahun 2007 setidaknya ada empat negara menyusul, yaitu Austria, Swedia, Finlandia, dan Swiss. Secara bertahap negara-negara besar juga dalam perjalanan menuju hal sama, antara lain Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Australia, dan China.

Bagaimana Indonesia

Pemilik pesawat TV konvensional nantinya memang harus menyediakan sebuah kotak konversi sinyal radio dari digital ke analog yang lazim disebut set-top box. Namun, yang terjadi di Indonesia, selain masalah sosial, siapa yang harus membelikan set-top box. Demikian pula standar televisi digital yang mana yang akan diambil.

Banyak perusahaan melakukan pengembangan, seperti DVB-T (Digital Video Broadcasting-Terrestrial), yang dikembangkan kelompok perusahaan dari Eropa, dan DMB (Digital Multimedia Broadcasting) oleh perusahaan dari Korea yang kemudian juga diadopsi dunia melalui Eropa.

Bagi negara kecil yang kaya memang tidak sulit sehingga tidaklah mengherankan apabila negara-negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) sedang mencoba menghadapi persoalan ini bersama, meskipun tiap-tiap negara masih tetap memiliki hak menentukan rencana switch-off maupun teknologi yang digunakan masing-masing.

Malaysia tercatat sebagai negara yang agresif, bahkan menteri informasi mereka sudah merencanakan memulai menghentikan siaran analog secara bertahap tahun 2009 dan seluruhnya akan berganti digital 2015. Adapun negara Asia lainnya, seperti China, menargetkan penghentian siaran analog juga pada tahun 2015, Hongkong 2012, dan Jepang 2011.

Bagaimana dengan Indonesia?

Setidaknya Departemen Komunikasi dan Informatika sudah membentuk Tim Nasional Migrasi Sistem Penyiaran dari Analog ke Digital. Tim ini bahkan sudah bekerja sejak 1 Januari 2005. Tim ini juga sudah bekerja melakukan percobaan dan memilih teknologi yang paling tepat.

Menurut kabar terakhir, bersama-sama negara ASEAN lain, Indonesia akan memulai phase-out sampai tahun 2015. Bahkan, Menkominfo Mohammad Nuh ditunjuk sebagai Ketua ASEAN Ministers Responsible for Information (AMRI) yang salah satunya menangani masalah migrasi bersama ini.

Pengembangan sistem digital bagaimanapun sedikit banyak karena pengaruh perkembangan dunia teknologi informatika, meskipun secara spesifik teknologi informatika melahirkan apa yang disebut dengan IPTV (Internet Protocol TV), televisi yang bisa disaksikan melalui jaringan internet.

Pengaruh

Sekarang ini IPTV juga diadopsi para vendor jaringan telekomunikasi melalui jaringan generasi barunya. Para vendor ini juga menjadi agen utama penyedia jaringan untuk seluler yang menyediakan tayangan televisi digital untuk perangkat kecil. Bagaimanapun ponsel sudah menjadi layar keempat bagi industri dunia hiburan setelah bioskop, TV, dan komputer.

Perkembangan yang demikian cepat belakangan ini juga memunculkan sedikit kerancuan antara TV digital yang dimaksud dengan TV digital untuk seluler dengan TV digital seperti TV yang kita kenal sekarang. Para vendor, sebut saja Ericsson, Alcatel, Nokia-Siemens, dan Motorola, memiliki lahan yang semakin luas.

Ke depan penyelenggara hiburan TV semakin diperancu dengan adanya konsep triple play, di mana satu pipa bisa menyalurkan tiga kegunaan yang berbeda, akan melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru. Perusahaan telekomunikasi bukan lagi menjadi penyedia jasa komunikasi suara saja, tetapi juga menyediakan akses internet dan hiburan seperti layaknya TV kabel.

Sementara saat ini juga mulai menjamur perusahaan TV berbayar, baik TV kabel maupun TV satelit, di mana untuk kondisi seperti di Indonesia sudah mulai dengan transmisi secara digital. Dengan konsep triple play, perusahaan internet juga bisa menyelenggarakan TV berbayar maupun IPTV bagi pengaksesnya.

Sedangkan TV digital yang akan menggantikan TV analog yang sekarang lebih dikenal dengan istilah DTV (Digital TV) biasanya terbagi dalam format HDTV (High Definition TV) dan SDTV (Standard Definition TV). Satu kanal untuk TV analog sekarang bisa digantikan dengan satu stasiun HDTV, atau beberapa untuk SDTV (kualitas setingkat dengan TV analog).

COMEN:Saat ini sebenarnya pertelevisian Indonesia sedang memasuki saat-saat yang mendebarkan dengan adanya rencana penerapan penyiaran televisi secara digital. Kondisinya sangat berbeda dengan negara-negara maju yang wilayahnya kecil dan penduduknya berpenghasilan besar.

Disajikan Ulang oleh :Enggar T.A.

kLAS/No :XMM1/10


About pson

spirit my life is a science and teknology
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s