Teknologi Televisian

TEKNOLOGI PERTELEVISIAN

TEKNOLOGI TELEVISI DIGITAL

JOGJA — Meskipun teknologi televisi digital menawarkan banyak kemudahan yang menggiurkan, namun gagasan untuk melakukan migrasi teknologi analog ke teknologi digital dalam dunia pertelevisian di Indonesia membutuhkan konsep yang utuh dan tentunya juga budget policy dari pemerintah. Segala bentuk perubahan dari sistem yang sudah biasa digunakan ke sistem baru pasti akan menimbulkan cost atau biaya.
Hal ini diungkapkan oleh pakar komunikasi dari Masyarakat Informasi Indonesia Paulus Widiyanto saat menjadi salah satu narasumber dalam diskusi “Menggagas TV Digital di Yogyakarta” di Kampus III Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Senin (22/9). Diskusi yang digelar dalam rangka Dies Natalis UAJY ke-43 dan dikoordinir oleh Atmajaya Broadcasting Network (ABN) ini digagas oleh Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip UAJY dan PT Telkom Indonesia.
Menurut Paulus, meskipun sudah ada tim yang dibentuk, saat ini pemerintah Indonesia belum membuat konsep yang menyeluruh tentang perubahan teknologi analog ke teknologi digital tersebut. Berubahnya teknologi dalam dunia pertelevisian itu jelas juga akan mengubah equipment penyiaran. Stasiun televisi lokal maupun televisi komunitas yang hanya memiliki equipment yang terbatas pun bukan tidak mungkin bisa menjadi “korban” karena mereka juga dituntut untuk berubah.
“Memang tawaran dari teknologi ini begitu menggiurkan, tapi you must pay for it! Kalau konsepnya belum utuh, jangan coba-coba masuk ke dunia itu. Siapa yang akan membiayai? Negara atau masyarakat sendiri?,” tutur Paulus.
Ia berharap, keinginan untuk bermigrasi ke teknologi digital tersebut jangan sampai meninggalkan aspek kepentingan publik atau hanya mengejar kepentingan industrialis.
“Jangan lihat Indonesia seperti melihat Jakarta atau Jogja, tapi lihat infrastruktur di daerah lain dan juga kemampuan masyarakatnya. Rakyat di rural area tidak butuh teknologi digital itu, listrik saja belum semua bisa menikmati. Apa negara bisa men-serve mereka?,” tegasnya lagi.
Pendapat senada diungkapkan oleh dosen yang juga peneliti media massa UAJY Bonaventura Satria B. Menurutnya, mau tidak mau televisi digital harus diposisikan sebagai produk budaya. Jika serta-merta diterapkan, bukan tidak mungkin akan terjadi culture shock di antara masyarakat.
“Negara sebesar AS saja bisa meleset saat merencanakan migrasi ke televisi digital. Mereka merencanakan sejak 1996 dan diharapkan selesai tahun 2006.
Nyatanya, transisi penuh ke televisi digital baru akan bisa diterapkan awal 2009 mendatang,” terangnya.
Bona menegaskan, migrasi teknologi pertelevisian tersebut jelas harus dipersiapkan dengan matang. Ia melihat, teknologi tersebut merupakan sebuah kebutuhan yang muncul karena tekanan perkembangan teknologi global.
Sementara itu, Direktur PT Multicom Indopersada Satrio Darmanto optimis bahwa TV digital semakin strategis untuk dibicarakan di era konvergensi atau penyatuan media dari jalur berbeda seperti saat ini. Lewat teknologi TV digital, penonton tak hanya menonton siaran televisi dengan kualitas prima, tapi juga bisa berinteraksi, misalnya memesan acara yang diinginkan. (ovi)

Disajikan kembali oleh: Marsela Chikita Yoh.S
X MM 1/ 17

Film dan Sinetron

Bisakah di negeri ini kegiatan membaca menjadi trendi? Bagi mereka yang beraliran skeptis, mereka yang selalu menyalahkan perkembangan teknologi audiovisual dewasa ini, jawaban mereka sejenis: tak bisa!

Bagaimana dengan mereka yang masih memiliki oportuniti, optimistis, dan pemuja teknologi audiovisual, jawaban mereka pasti sangat menjanjikan! Masih ada harapan untuk menjadikan kegiatan membaca di zaman ”kotak ajaib” ini. Setidaknya, kegiatan membaca masih bisa dibangkitkan dan ditata kembali agar bisa menjadi tren masa kini.

Muhidin M. Dahlan, dalam esai buku Saatnya Bikin Buku TV (Jawa Pos, 29/6/08) merupakan pasokan energi baru bagi mereka yang selama ini masif mengampanyekan kegiatan membaca pada masyarakat. Muhidin memberikan ide dan gagasan yang apik berdasarkan pengamatannya terhadap perkembangan audiovisual bak jamur di musim hujan. Yang mana perkembangan stasiun TV lokal yang berjibun menandakan bahwa industri hiburan (pertelevisian) lagi booming. Ini tak bisa dinafikan, sehingga tawaran ide Muhidin patutlah disambut dan kalau bisa direalisasikan.

Buku TV atau apa pun istilahnya menjadi utopis untuk saat ini. Sebab, industri pertelevisian masih gandrung pada selera pasar yang rendah. Para pelaku industri pertelevisian masih senang dengan tontonan tahayul, gosip, sinetron dan reality show. Bagi pelaku industri pertelevisian, perbukuan masih dianggap tidak memiliki nilai jual -tidak mampu meningkatkan rating.

Penulis bukan termasuk orang yang skeptis, penulis adalah salah satu yang optimistis dengan perkembangan kegiatan membaca menjadi tren di zaman ”kotak ajaib” saat ini. Hanya saja untuk menjadi pengikut Muhidin sebentar dulu, bro! Ada yang bisa dilakukan sebelum menuju ke gagasan yang ”wah” itu. Sebab, pernah ada suatu program acara yang mirip dengan gagasan Muhidin di salah satu stasiun TV lokal di Jogja berjudul Dunia Pustaka tetapi sesudah itu tak jelas lagi.

Program TV itu digawangi Herlinatiens, penulis novel yang sudah tak asing lagi namanya. Berdurasi satu jam, program itu menghadirkan tokoh-tokoh penulis lokal maupun luar Jogja. Di samping itu, tak sekadar talk show, program ini menampilkan adegan berhubungan dengan perbukuan di berbagai kampus di Kota Pendidikan itu -menunjukkan perpustakaan kampus dan acara bedah buku yang diadakan. Ya, sangat menarik. Tapi sayang, program itu tak mampu bertahan lama. Ia KO ditendang acara yang miskin edukatif, seperti sinetron murahan dan lagu-lagu cengeng.

Contoh di atas sekiranya bisa menjadi pertimbangan buat ide gila Muhidin. Pada dasarnya, kegiatan membaca di masyarakat masih bersifat hiburan semata. Dan itu merupakan kerja-kerja individual. Kegiatan membaca kita masih sekadar kegiatan mengisi waktu luang sehingga kegiatan membaca belum menjadi kegiatan yang ”menular” kepada masyarakat lain.

Barangkali ini mesti diperhatikan terlebih dahulu oleh para kutubuku dan pemerhati gemar membaca. Jadi, yang perlu dibenahi adalah pola dan mode membaca kita saat ini.

Bisakah kita menjadikan kegiatan membaca sebagai tren masa kini? Tentu saja bisa. Kalau yang lain bisa menjadi trendi, seperti sinetron dan film misteri, mengapa kegiatan membaca dan buku tak bisa? Ini karena dunia perbukuan masih bersifat eksklusif. Ia masih asyik-masyuk dengan dunianya sendiri. Bisa dilihat dari iklan sosial tentang gemar membaca yang muncul di TV-TV akhir-akhir ini. Iklannya masih menjadikan buku seperti sesuatu yang istimewa dan elitis.

Sudah saatnya buku dan kegiatan membaca menjadi kegiatan sosial dan milik umum, bukan milik individual. Ini bisa dilakukan dan diperkenalkan dengan model dan pola-pola populer. Buku harus bisa masuk ke dalam ranah lingkungan masyarakat. Salah satu mediasi efektifnya adalah sinetron dan film. Sinetron selama ini sangat hampa akan aktivitas membaca dalam setiap adegannya. Ini bisa dilihat dalam sinetron remaja yang mengambil seting sekolahan namun dalam setiap adegannya hampir tak dijumpai selembar buku pun. Begitu pula dengan film-film kita, hampir tidak dijumpai rak-rak buku dalam adegan-adegannya yang mengambil latar belakang ruangan keluarga dengan buku-buku di rak. Padahal, sinetron dan film sebagai mediasi populer sangat masif menyampaikan nilai-nilai tradisional dan nilai-nilai modern.

Bandingkan dengan film-film bikinan luar negeri. Selain seks dan makanan sebagai bumbu cerita, buku dan bacaan menjadi tata seting yang apik. Hampir semua jenis film drama, triller, eksen, hingga komedi selalu dijumpai adegan yang menampilkan rak-rak buku dan kegiatan membaca pemainnya.

Di Indonesia, sebenarnya ada film yang memberi perhatian terhadap kegiatan membaca dan mempengaruhi dunia perbukuan. Misalnya, film Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Di film itu ada pemain gadis remaja (SMA) senang membaca buku AKU karya Sumanjaya. Tak tanggung-tanggung, buku itu mendapat perhatian di kalangan remaja karena mengikuti tren Dian Sastro (Cinta). Anak-anak remaja pun beramai-ramai membaca buku AKU tersebut.

Film Gie yang diangkat dari sebuah buku Catatan Harian Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie, juga menjadi booming lagi setelah dilayarlebarkan. Permintaan buku CHSD pun meningkat drastis.

Untuk itu, sebelum adanya buku TV, barangkali hadirnya buku dalam setiap sinetron dan film-film bisa memberikan warna baru dan menjadi mediasi membangun budaya baca masyarakat. Sebab apa yang disaksikan dalam sebuah tayangan sinetron dan film cepat menjadi tren masyarakat. Semoga!(*)

Disajikan kembali oleh: Marsela Chikita Yoh.S
X MM 1/ 17

Media, Teknologi, dan Kekuasaan

Rabu, 18 Juni 2008
“Sekarang politisi tahu bahwa setiap langkah—kata ataupun ekspresi—akan direkam, dikemas, dan dihubungkan ke seluruh dunia, dalam beberapa menit.” (Edward Luce, Financial Times, 13/6/2008)
Semula, mata kuliah yang diunggulkan di jurusan komunikasi sejumlah universitas adalah Media, Teknologi, dan Masyarakat (Society). Namun, dari satu sesi di dalam mata kuliah itu, yakni yang terkait dengan kekuasaan, kemudian oleh Program Studi Hubungan Internasional FISIP UI dimunculkan menjadi satu mata kuliah sendiri, yakni Media, Teknologi, dan Kekuasaan (Power).
Mahasiswa dengan itu lalu mendapatkan aktualisasi dari penerapan teknologi baru, khususnya di bidang media, dalam kaitannya dengan praksis politik. Ketika hari-hari ini berlangsung rangkaian proses pemilihan presiden AS, contoh aktual tersebut bertambah nyata.
Pada harian ini, Kamis (12/6), peneliti CSIS, Philips J Vermonte, juga menjelaskan beberapa aspek pemanfaatan media untuk pencapaian tujuan politik. Mengutip majalah The Atlantic Monthly edisi Juni 2008, Vermonte menyebutkan bagaimana cara komunikasi politik mengalami transformasi dari masa ke masa. Andrew Jackson, misalnya, membentuk Partai Demokrat saat teknologi cetak mengalami kemajuan pesat pada awal 1800-an. Jackson mengorganisasi editor dan penerbit untuk membentuk parpol. Lalu Abraham Lincoln menjadi tokoh legendaris setelah transkrip kampanye presidennya disebarluaskan melalui koran yang saat itu berkembang marak di AS.
Pada masa berikutnya, Franklin Roosevelt memimpin AS melalui masa sulit mengampanyekan program New Deal secara efektif lewat pesan radio. Akhirnya, John Kennedy jadi sangat populer setelah debat antarcalon presiden pertama kali disiarkan televisi. Kennedy sejak itu giat memanfaatkan televisi untuk memperkuat citranya.
Media baru
Memang hal yang tak diragukan lagi, media terbukti merupakan alat efektif untuk menjangkau massa pemilih bagi para kandidat, dan corong bagi pemegang kekuasaan.
Meski sejumlah politisi Indonesia telah gencar menghadirkan diri di media, dari iklan Ketua Umum PAN hingga situs web mantan Ketua Umum Partai Golkar, itu masih merupakan pemanfaatan paling basic.
Bandingkan dengan yang dilakukan kandidat dari Partai Demokrat, Barack Obama, dengan internet. Dengan mengeksploitasi sifat Web 2.0 yang menekankan pada komunitas, tim Obama telah menggelar 30.000 acara dalam 15 bulan kampanye pemilihan pendahuluan. Rekaman video kegiatan yang digelar bisa diakses melalui situs YouTube, My-Space, dan Facebook. Pendukung juga dapat menikmati berbagai pesan kampanye melalui iPod.
Kubu Obama juga menyadari, kampanye politik tak bisa sepenuhnya bersifat ”putih”. Buktinya, Obama diserang dengan berbagai macam isu. Kampanye hitam ini pun ia jawab melalui internet, yaitu dengan meluncurkan situs Fight the Smears (Perangi Cela).
Dengan berbagai kiprah kampanye di internet, Edward Luce menulis, kalau ada medali emas dalam pemanfaatan teknologi baru untuk tujuan politik, maka setiap aficionado akan menyerahkannya kepada Obama (Financial Times, 13/6).
Ide itu masuk akal juga karena kanal Obama di YouTube punya hampir 1.300 video yang dibuat staf kampanyenya, dan itu setiap hari terus bertambah. Dari sisi orang yang melihatnya, video Obama telah ditonton 50 juta orang, sementara kanal YouTube John McCain yang punya 200 video baru ditonton 4 juta orang.
Tiga manfaat
Menurut Direktur Media Baru Obama Joe Rospars, tim kampanye melihat internet sebagai alat yang bisa untuk mencapai tiga sasaran, yakni membantu mengorganisasi pendukung, mengumpulkan dana, dan menyampaikan pesan (telling the campaign’s story).
Berkembangnya dukungan terhadap Obama di internet juga disebabkan oleh sikap ”silakan saja”, laissez-faire, Obama, di mana pendukung dipersilakan ikut membangun konten kampanye dan bahkan membangun situs pendukung masing-masing, seperti juga kita lihat di Indonesia. Ada yang menyebut, kampanye Obama demikian internetfriendly. Sementara kedua calon lain, dalam hal ini Hillary Clinton dan John McCain, lamban dalam memanfaatkan potensinya. Ada kesan, tim kampanye Hillary menerapkan pengawalan terhadap isi situs mereka (gate-keeping). Padahal, semakin enteng video di era YouTube ini, semakin cepat ia menyebar.
Namun, dengan semua kemajuan ini, politisi juga menarik kearifan dari pemanfaatan teknologi baru.
Akan meluas
Apa pun, kini teknologi baru telah tersedia bagi para aspiran politik yang sedang mendambakan kekuasaan. Memang untuk berbagai negara, terkait dengan infrastruktur yang terpasang, masih banyak dianalisis, mana teknologi yang paling efektif dari teknologi tersebut. Salah satu analisis disampaikan pakar komunikasi Ade Armando dalam Seminar Asosiasi Ilmu Politik Indonesia di Banjarmasin pertengahan April silam. Karena internet masih terbatas di kota-kota besar, televisi dan media cetak dipercayai masih pemegang peranan terbesar dalam pemanfaatan teknologi media untuk politik.
Masalahnya, media yang besar pengaruhnya itu juga tidak selamanya bebas nilai. Pada masa lalu, Hitler menjadikan media untuk propaganda besar-besaran bagi cita-cita Nazi-nya (lihat Media and Society in the Twentieth Century, Gorman & McLean, 2003). Orde Baru juga melakukan hal yang sama.
Bahkan, karena besarnya pengaruh media seperti televisi, sosok seperti PM Italia Silvio Berlusconi dan keluarganya mengontrol jaringan penyiaran swasta Mediaset, yang diperkuat dengan tiga kanal terestrial (Financial Times, 13/6).
Selain untuk memengaruhi rakyat pemilih, medium seperti televisi juga besar peranannya dalam penyebaran nilai. Jadi, tidak heran apabila pemilik modal—apalagi yang punya cita-cita politik—tak ragu untuk berinvestasi besar dalam pertelevisian.
Di era pemilihan, politisi akan semakin luas memanfaatkan teknologi baru media.
Disajikan kembali oleh : Marsela Chikita Yoh.S
X MM 1/ 17

About pson

spirit my life is a science and teknology
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s