KOMPUTER JINJING

Komputer jinjing (populer dalam bahasa Inggris: laptop, notebook, atau powerbook) adalah komputer bergerak yang berukuran relatif kecil dan ringan, beratnya berkisar dari 1-6 kg, tergantung ukuran, bahan, dan spesifikasi laptop tersebut.

Sumber daya komputer jinjing berasal dari baterai atau adaptor A/C yang dapat digunakan untuk mengisi ulang baterai dan menyalakan laptop itu sendiri. Baterai laptop pada umumnya dapat bertahan sekitar 1 hingga 6 jam sebelum akhirnya habis, tergantung dari cara pemakaian, spesifikasi, dan ukuran baterai.

Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PERTELEVISIAN INDONESIA

Siapa yang tidak tahu televisi? Ya, tentu saja semua orang pasti sudah mengetahui apa itu televisi. Televisi merupakan salah satu media elektronik yang menayangkan siaran-siaran pertelevisian yang memberikan informasi dan hiburan bagi masyarakat. Dan bahkan sekarang hampir semua orang telah memilikinya. Karena dewasa ini televisi sudah dianggap olah masyarakat sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi.

Di Indonesia stasiun televisi yang online sangatlah banyak sehingga siarannya pun sangat bervariasi. Contohnya saja seperti siaran berita, film, sinetron, gosip, rality show, dan banyak lagi yang lainya. Dengan adanya banyak siaran seperti ini maka para konsumen/penonton tidak bosan dan dapat memilih siaran yang mereka sukai.

Lalu siaran apakah yang paling banyak disukai di Indonesia? Memang siaran televisi di Indonesia sangatlah banyak dan penggemarnya pun ada sendiri-sendiri di setiap siaran televisi. Tetapi yang paling mendominasi atau sering ditonton masyarakat adalah sinetron. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan banyak stasiun televisi yang menyiarkan sinetron dibandingkan dengan berita ataupun siaran tentang pendidikan. Oleh sebab itulah sinetron lebih mendominasi pertelevisian Indonesia.

Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MENGENAL TEKNOLOGI GAMBAR TV

Saat TV LCD dan plasma mulai memenuhi display toko-toko elektronik, banyak orang berpikir bahwa era TV tabung sinar katoda (cathoda ray tube-CRT) akan segera berakhir—bernasib sama dengan produk-produk usang lainnya. Tapi ternyata tidak. Si ’kotak gendut’ yang ’menggendong’ tabung besar di belakangnya ini ternyata masih diminati oleh pasar. Kita masih menjumpai lebih banyak TV CRT yang terpajang di toko-toko elektronik super modern, apalagi di toko-toko elektronik tradisional. Sepintas lalu, LCD dan plasma memang menjadi buah bibir para penikmat hiburan. Gambarnya yang jernih, modelnya yang tipis dan fleksibilitas yang dimilikinya (bisa ditaruh di atas meja atau digantung di tembok) benar-benar memukau konsumen. Sangat sinkron dengan gaya interior modern yang lebih condong ke format minimalis dan artistik. Kualitas gambarnya pun di atas rata-rata TV CRT yang kemudian dicap sebagai ’televisi konvensional’.

Tapi ternyata era TV CRT masih terus bergulir, khususnya di segmen pasar yang sensitif terhadap harga. Bila dibandingkan dengan TV LCD maupun plasma, TV tabung memang relatif lebih terjangkau. Konsumsi listriknya pun lebih irit. Meskipun penjualan TV LCD dan plasma terus meningkat dari tahun ke tahun (antara lain disebabkan turunnya harga), TV CRT masih menguasai pangsa para di Indonesia—juga dunia. Melihat pertumbuhan pasar TV CRT yang menunjukkan tren naik, para produsen televisi berlomba-lomba melakukan inovasi (atau bisa disebut evolusi) baik dalam hal teknologi tampilan gambar, output suara maupun desain fisik. Semua perbaikan dan perubahan ini dilakukan sesuai selera pasar. Bahkan saat ini TV CRT sudah memasuki era layar datar (flat screen) yang juga menjadi platform utama TV LCD dan plasma.

Pangsa pasar TV CRT pun melebar ke segmen C, C+ dan B. Di segmen ini, konsumen cenderung mengutamakan tampilan suatu produk. Dan keinginan itu sudah dipenuhi dengan baik oleh para manufaktur dengan menghadirkan produk-produk berdesain tipis dan modern—mendekati tampilan TV LCD dan plasma.

Ada juga yang menciptakan televisi dalam balutan warna-warni mencolok untuk pasar anak muda. Ya, televisi dengan kerangka tipis memang sedang digandrungi oleh pasar. Tapi, asal tahu saja, kualitas gambar juga menjadi aspek penting yang juga terus dikembangkan oleh produsen televisi. Pasalnya, kualitas gambar juga menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli televisi, selain tampilan desain tadi.

Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Speaker: Stereo 2.1 dan Surround 5.1

Teknologi stereo adalah lompatan besar dari teknologi sebelumnya – disebut mono – dimana suara dibagi dan disalurkan ke dua kanal (channel) terpisah.

Lompatan teknologi berikutnya adalah surround dimana suara dibagi dan disalurkan ke lebih dari dua / banyak kanal (multi-kanal).

Sistem komputer masa kini umumnya sudah mendukung baik teknologi stereo maupun surround.

Stereo 2.1

Keberadaan teknologi surround tidak berarti kesudahan teknologi stereo.

Jika dibandingkan dengan surround teknologi stereo unggul dalam hal respons frequensi (frequency response).

Efek teknologi stereo membuat respons frequensi cenderung merata sehingga membuat suara yang dihasilkan mempunyai detail yang begitu tinggi (akurat).

Bagi penikmat musik detail suara adalah faktor utama karena dengan suara yang mendetail keindahan komposisi suara yang disajikan oleh si pembuat musik terdengar jelas.

Produk speaker untuk stereo umumnya terdiri dari sepasang speaker saja atau sepasang speaker satelit dan satu speaker woofer , sistem ini biasanya disebut Stereo 2.1.

Yang dimaksud dengan speaker satelit adalah speaker yang menghasilkan suara menengah-ke-tinggi. Sedangkan Woofer (juga sering disebut sub-woofer) adalah speaker yang menghasilkan suara rendah.

Masing-masing unit satelit dan woofer dapat terdiri dari satu, dua speaker atau lebih.

Gambar speaker 2.1 (dua satelit dan 1 woofer)
Speaker 2.1 (dua satelit, satu sub woofer)

Gambar speaker 5.1 (lima satelit dan 1 woofer)
Speaker 5.1 (lima satelit, satu subwoofer)

Surround 5.1

Continue reading

Posted in Uncategorized | 1 Comment

TIPS PEMASANGAN MOTHERBOARD


Memasang motherboard bukanlah sesuatu yang sulit. Tidak diperlukan ijasah ataupun kecerdasan jenius untuk dapat melakukannya. Melainkan hanya perlu membutuhkan ketelitian dan kemauan. Untuk melakukan hal tersebut, akan kami berikan panduan untuk Anda.

1. Perhatian khusus untuk jumper.
Sampai sekarang ini memang tidak ada standar layout untuk jumper pada motherboard. Hal ini dikarenakan industri produsen motherboard, memiliki desain layout tersendiri. Meskipun tidak mencolok antara masing-masing produsen. Namun, untuk Anda yang baru kali pertama memasang motherboard, kami sarankan untuk membaca buku manualnya. Karena tidak semua produk motherboard, memiliki penjelasan text yang tertera jelas pada PCB motherboard. Jangan menebak-nebak untuk hal ini.

Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Perkembangan USB Flash Drive

Perkembangan teknologi informasi begitu amat ditunggu oleh dunia informasi dan telekomunikasi. Perkembangan tersebut amat dinanti-nanti dengan harapan dapat membantu proses-proses yang ada dalam sebuah organisasi. Dengan bermodalkan berjuta-juta dollar amerika,ataupun bahkan bermilyar-milyar dollar amerika, para peneliti dan perusahaan-perusahaan teknologi rela merogoh kocek mereka demi mendapatkan teknologi yang paling ungul dan paling modern. Teknologi memory adalah salah satu dari sekian banyak jenis teknologi informasi yang perkembangannya sangat pesat dewasa ini. Alasan yang mendukung teknologi ini adalah kebutuhan akan sebuah storage penyimpanan yang handal dan cepat serta dengan harga yang terjangkau. Oleh karena itu, penelitian akan memory berlangsung cepat dan juga menguntungkan dalam segi bisnis.Salah satu teknologi informasi yang paling menarik adalah teknologi USB. USB atau yang lebih dikenal sebagai Universal Serial Bus adalah sebuah jalur koneksi serial elektronik yang diciptakan dengan tujuan untuk menghubungkan segala macam device yang bersifat eksternal. Pada awalnya USB diciptakan untuk menghubungkan Smart Phone dengan Personal Computer (PC), namun pada akhirnya penggunaannya berkembang bahkan sampai kepada device seperti mouse, printer, speaker,MP3 player, dll. Teknologi USB sendiri sekarang telah mencapai teknologi USB 3.0 bahkan sekarang sedang dikembangkan WUSB (Wireless Universal Serial Bus).

Salah satu teknologi USB yang paling digemari adalah teknologi USB flash drive. Sebuah teknologi memory yang benar-benar ada karena kebutuhan pasar. Dengan kapasitasnya yang besar, ukuran yang kecil, serta kecepatan yang baik, USB Flash drive banyak diminati oleh masyarakat. USB Flash drive berfungsi sebagai media penyimpanan yang portable. Walaupun tidak sebesar external hard drive tetapi dengan ukurannya yang kecil,teknologi ini menjadi semakin banyak peminatnya. USB flash drive juga dikenal dengan nama Thumb Drive, Jump Drive, Pen Drive, Key Drive, Token, atau secara mudah dapat dikenal dengan sebutan USB drive. Tidak seperti teknologi removable storage memory lainnya, USB dapat berjalan tanpa bantuan tenaga tambahan, tidak memerlukan proses booting, dan yang terpenting adalah tidak bergantung kepada salah satu macam platform sistem operasi.

Continue reading

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Teknologi Televisian

TEKNOLOGI PERTELEVISIAN

TEKNOLOGI TELEVISI DIGITAL

JOGJA — Meskipun teknologi televisi digital menawarkan banyak kemudahan yang menggiurkan, namun gagasan untuk melakukan migrasi teknologi analog ke teknologi digital dalam dunia pertelevisian di Indonesia membutuhkan konsep yang utuh dan tentunya juga budget policy dari pemerintah. Segala bentuk perubahan dari sistem yang sudah biasa digunakan ke sistem baru pasti akan menimbulkan cost atau biaya.
Hal ini diungkapkan oleh pakar komunikasi dari Masyarakat Informasi Indonesia Paulus Widiyanto saat menjadi salah satu narasumber dalam diskusi “Menggagas TV Digital di Yogyakarta” di Kampus III Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Senin (22/9). Diskusi yang digelar dalam rangka Dies Natalis UAJY ke-43 dan dikoordinir oleh Atmajaya Broadcasting Network (ABN) ini digagas oleh Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip UAJY dan PT Telkom Indonesia.
Menurut Paulus, meskipun sudah ada tim yang dibentuk, saat ini pemerintah Indonesia belum membuat konsep yang menyeluruh tentang perubahan teknologi analog ke teknologi digital tersebut. Berubahnya teknologi dalam dunia pertelevisian itu jelas juga akan mengubah equipment penyiaran. Stasiun televisi lokal maupun televisi komunitas yang hanya memiliki equipment yang terbatas pun bukan tidak mungkin bisa menjadi “korban” karena mereka juga dituntut untuk berubah.
“Memang tawaran dari teknologi ini begitu menggiurkan, tapi you must pay for it! Kalau konsepnya belum utuh, jangan coba-coba masuk ke dunia itu. Siapa yang akan membiayai? Negara atau masyarakat sendiri?,” tutur Paulus.
Ia berharap, keinginan untuk bermigrasi ke teknologi digital tersebut jangan sampai meninggalkan aspek kepentingan publik atau hanya mengejar kepentingan industrialis.
“Jangan lihat Indonesia seperti melihat Jakarta atau Jogja, tapi lihat infrastruktur di daerah lain dan juga kemampuan masyarakatnya. Rakyat di rural area tidak butuh teknologi digital itu, listrik saja belum semua bisa menikmati. Apa negara bisa men-serve mereka?,” tegasnya lagi.
Pendapat senada diungkapkan oleh dosen yang juga peneliti media massa UAJY Bonaventura Satria B. Menurutnya, mau tidak mau televisi digital harus diposisikan sebagai produk budaya. Jika serta-merta diterapkan, bukan tidak mungkin akan terjadi culture shock di antara masyarakat.
“Negara sebesar AS saja bisa meleset saat merencanakan migrasi ke televisi digital. Mereka merencanakan sejak 1996 dan diharapkan selesai tahun 2006.
Nyatanya, transisi penuh ke televisi digital baru akan bisa diterapkan awal 2009 mendatang,” terangnya.
Bona menegaskan, migrasi teknologi pertelevisian tersebut jelas harus dipersiapkan dengan matang. Ia melihat, teknologi tersebut merupakan sebuah kebutuhan yang muncul karena tekanan perkembangan teknologi global.
Sementara itu, Direktur PT Multicom Indopersada Satrio Darmanto optimis bahwa TV digital semakin strategis untuk dibicarakan di era konvergensi atau penyatuan media dari jalur berbeda seperti saat ini. Lewat teknologi TV digital, penonton tak hanya menonton siaran televisi dengan kualitas prima, tapi juga bisa berinteraksi, misalnya memesan acara yang diinginkan. (ovi)

Disajikan kembali oleh: Marsela Chikita Yoh.S
X MM 1/ 17

Film dan Sinetron

Bisakah di negeri ini kegiatan membaca menjadi trendi? Bagi mereka yang beraliran skeptis, mereka yang selalu menyalahkan perkembangan teknologi audiovisual dewasa ini, jawaban mereka sejenis: tak bisa!

Bagaimana dengan mereka yang masih memiliki oportuniti, optimistis, dan pemuja teknologi audiovisual, jawaban mereka pasti sangat menjanjikan! Masih ada harapan untuk menjadikan kegiatan membaca di zaman ”kotak ajaib” ini. Setidaknya, kegiatan membaca masih bisa dibangkitkan dan ditata kembali agar bisa menjadi tren masa kini.

Muhidin M. Dahlan, dalam esai buku Saatnya Bikin Buku TV (Jawa Pos, 29/6/08) merupakan pasokan energi baru bagi mereka yang selama ini masif mengampanyekan kegiatan membaca pada masyarakat. Muhidin memberikan ide dan gagasan yang apik berdasarkan pengamatannya terhadap perkembangan audiovisual bak jamur di musim hujan. Yang mana perkembangan stasiun TV lokal yang berjibun menandakan bahwa industri hiburan (pertelevisian) lagi booming. Ini tak bisa dinafikan, sehingga tawaran ide Muhidin patutlah disambut dan kalau bisa direalisasikan.

Buku TV atau apa pun istilahnya menjadi utopis untuk saat ini. Sebab, industri pertelevisian masih gandrung pada selera pasar yang rendah. Para pelaku industri pertelevisian masih senang dengan tontonan tahayul, gosip, sinetron dan reality show. Bagi pelaku industri pertelevisian, perbukuan masih dianggap tidak memiliki nilai jual -tidak mampu meningkatkan rating.

Penulis bukan termasuk orang yang skeptis, penulis adalah salah satu yang optimistis dengan perkembangan kegiatan membaca menjadi tren di zaman ”kotak ajaib” saat ini. Hanya saja untuk menjadi pengikut Muhidin sebentar dulu, bro! Ada yang bisa dilakukan sebelum menuju ke gagasan yang ”wah” itu. Sebab, pernah ada suatu program acara yang mirip dengan gagasan Muhidin di salah satu stasiun TV lokal di Jogja berjudul Dunia Pustaka tetapi sesudah itu tak jelas lagi.

Program TV itu digawangi Herlinatiens, penulis novel yang sudah tak asing lagi namanya. Berdurasi satu jam, program itu menghadirkan tokoh-tokoh penulis lokal maupun luar Jogja. Di samping itu, tak sekadar talk show, program ini menampilkan adegan berhubungan dengan perbukuan di berbagai kampus di Kota Pendidikan itu -menunjukkan perpustakaan kampus dan acara bedah buku yang diadakan. Ya, sangat menarik. Tapi sayang, program itu tak mampu bertahan lama. Ia KO ditendang acara yang miskin edukatif, seperti sinetron murahan dan lagu-lagu cengeng.

Contoh di atas sekiranya bisa menjadi pertimbangan buat ide gila Muhidin. Pada dasarnya, kegiatan membaca di masyarakat masih bersifat hiburan semata. Dan itu merupakan kerja-kerja individual. Kegiatan membaca kita masih sekadar kegiatan mengisi waktu luang sehingga kegiatan membaca belum menjadi kegiatan yang ”menular” kepada masyarakat lain.

Barangkali ini mesti diperhatikan terlebih dahulu oleh para kutubuku dan pemerhati gemar membaca. Jadi, yang perlu dibenahi adalah pola dan mode membaca kita saat ini.

Bisakah kita menjadikan kegiatan membaca sebagai tren masa kini? Tentu saja bisa. Kalau yang lain bisa menjadi trendi, seperti sinetron dan film misteri, mengapa kegiatan membaca dan buku tak bisa? Ini karena dunia perbukuan masih bersifat eksklusif. Ia masih asyik-masyuk dengan dunianya sendiri. Bisa dilihat dari iklan sosial tentang gemar membaca yang muncul di TV-TV akhir-akhir ini. Iklannya masih menjadikan buku seperti sesuatu yang istimewa dan elitis.

Sudah saatnya buku dan kegiatan membaca menjadi kegiatan sosial dan milik umum, bukan milik individual. Ini bisa dilakukan dan diperkenalkan dengan model dan pola-pola populer. Buku harus bisa masuk ke dalam ranah lingkungan masyarakat. Salah satu mediasi efektifnya adalah sinetron dan film. Sinetron selama ini sangat hampa akan aktivitas membaca dalam setiap adegannya. Ini bisa dilihat dalam sinetron remaja yang mengambil seting sekolahan namun dalam setiap adegannya hampir tak dijumpai selembar buku pun. Begitu pula dengan film-film kita, hampir tidak dijumpai rak-rak buku dalam adegan-adegannya yang mengambil latar belakang ruangan keluarga dengan buku-buku di rak. Padahal, sinetron dan film sebagai mediasi populer sangat masif menyampaikan nilai-nilai tradisional dan nilai-nilai modern.

Bandingkan dengan film-film bikinan luar negeri. Selain seks dan makanan sebagai bumbu cerita, buku dan bacaan menjadi tata seting yang apik. Hampir semua jenis film drama, triller, eksen, hingga komedi selalu dijumpai adegan yang menampilkan rak-rak buku dan kegiatan membaca pemainnya.

Di Indonesia, sebenarnya ada film yang memberi perhatian terhadap kegiatan membaca dan mempengaruhi dunia perbukuan. Misalnya, film Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Di film itu ada pemain gadis remaja (SMA) senang membaca buku AKU karya Sumanjaya. Tak tanggung-tanggung, buku itu mendapat perhatian di kalangan remaja karena mengikuti tren Dian Sastro (Cinta). Anak-anak remaja pun beramai-ramai membaca buku AKU tersebut.

Film Gie yang diangkat dari sebuah buku Catatan Harian Seorang Demonstran karya Soe Hok Gie, juga menjadi booming lagi setelah dilayarlebarkan. Permintaan buku CHSD pun meningkat drastis.

Untuk itu, sebelum adanya buku TV, barangkali hadirnya buku dalam setiap sinetron dan film-film bisa memberikan warna baru dan menjadi mediasi membangun budaya baca masyarakat. Sebab apa yang disaksikan dalam sebuah tayangan sinetron dan film cepat menjadi tren masyarakat. Semoga!(*)

Disajikan kembali oleh: Marsela Chikita Yoh.S
X MM 1/ 17

Media, Teknologi, dan Kekuasaan

Rabu, 18 Juni 2008
“Sekarang politisi tahu bahwa setiap langkah—kata ataupun ekspresi—akan direkam, dikemas, dan dihubungkan ke seluruh dunia, dalam beberapa menit.” (Edward Luce, Financial Times, 13/6/2008)
Semula, mata kuliah yang diunggulkan di jurusan komunikasi sejumlah universitas adalah Media, Teknologi, dan Masyarakat (Society). Namun, dari satu sesi di dalam mata kuliah itu, yakni yang terkait dengan kekuasaan, kemudian oleh Program Studi Hubungan Internasional FISIP UI dimunculkan menjadi satu mata kuliah sendiri, yakni Media, Teknologi, dan Kekuasaan (Power).
Mahasiswa dengan itu lalu mendapatkan aktualisasi dari penerapan teknologi baru, khususnya di bidang media, dalam kaitannya dengan praksis politik. Ketika hari-hari ini berlangsung rangkaian proses pemilihan presiden AS, contoh aktual tersebut bertambah nyata.
Pada harian ini, Kamis (12/6), peneliti CSIS, Philips J Vermonte, juga menjelaskan beberapa aspek pemanfaatan media untuk pencapaian tujuan politik. Mengutip majalah The Atlantic Monthly edisi Juni 2008, Vermonte menyebutkan bagaimana cara komunikasi politik mengalami transformasi dari masa ke masa. Andrew Jackson, misalnya, membentuk Partai Demokrat saat teknologi cetak mengalami kemajuan pesat pada awal 1800-an. Jackson mengorganisasi editor dan penerbit untuk membentuk parpol. Lalu Abraham Lincoln menjadi tokoh legendaris setelah transkrip kampanye presidennya disebarluaskan melalui koran yang saat itu berkembang marak di AS.
Pada masa berikutnya, Franklin Roosevelt memimpin AS melalui masa sulit mengampanyekan program New Deal secara efektif lewat pesan radio. Akhirnya, John Kennedy jadi sangat populer setelah debat antarcalon presiden pertama kali disiarkan televisi. Kennedy sejak itu giat memanfaatkan televisi untuk memperkuat citranya.
Media baru
Memang hal yang tak diragukan lagi, media terbukti merupakan alat efektif untuk menjangkau massa pemilih bagi para kandidat, dan corong bagi pemegang kekuasaan.
Meski sejumlah politisi Indonesia telah gencar menghadirkan diri di media, dari iklan Ketua Umum PAN hingga situs web mantan Ketua Umum Partai Golkar, itu masih merupakan pemanfaatan paling basic.
Bandingkan dengan yang dilakukan kandidat dari Partai Demokrat, Barack Obama, dengan internet. Dengan mengeksploitasi sifat Web 2.0 yang menekankan pada komunitas, tim Obama telah menggelar 30.000 acara dalam 15 bulan kampanye pemilihan pendahuluan. Rekaman video kegiatan yang digelar bisa diakses melalui situs YouTube, My-Space, dan Facebook. Pendukung juga dapat menikmati berbagai pesan kampanye melalui iPod.
Kubu Obama juga menyadari, kampanye politik tak bisa sepenuhnya bersifat ”putih”. Buktinya, Obama diserang dengan berbagai macam isu. Kampanye hitam ini pun ia jawab melalui internet, yaitu dengan meluncurkan situs Fight the Smears (Perangi Cela).
Dengan berbagai kiprah kampanye di internet, Edward Luce menulis, kalau ada medali emas dalam pemanfaatan teknologi baru untuk tujuan politik, maka setiap aficionado akan menyerahkannya kepada Obama (Financial Times, 13/6).
Ide itu masuk akal juga karena kanal Obama di YouTube punya hampir 1.300 video yang dibuat staf kampanyenya, dan itu setiap hari terus bertambah. Dari sisi orang yang melihatnya, video Obama telah ditonton 50 juta orang, sementara kanal YouTube John McCain yang punya 200 video baru ditonton 4 juta orang.
Tiga manfaat
Menurut Direktur Media Baru Obama Joe Rospars, tim kampanye melihat internet sebagai alat yang bisa untuk mencapai tiga sasaran, yakni membantu mengorganisasi pendukung, mengumpulkan dana, dan menyampaikan pesan (telling the campaign’s story).
Berkembangnya dukungan terhadap Obama di internet juga disebabkan oleh sikap ”silakan saja”, laissez-faire, Obama, di mana pendukung dipersilakan ikut membangun konten kampanye dan bahkan membangun situs pendukung masing-masing, seperti juga kita lihat di Indonesia. Ada yang menyebut, kampanye Obama demikian internetfriendly. Sementara kedua calon lain, dalam hal ini Hillary Clinton dan John McCain, lamban dalam memanfaatkan potensinya. Ada kesan, tim kampanye Hillary menerapkan pengawalan terhadap isi situs mereka (gate-keeping). Padahal, semakin enteng video di era YouTube ini, semakin cepat ia menyebar.
Namun, dengan semua kemajuan ini, politisi juga menarik kearifan dari pemanfaatan teknologi baru.
Akan meluas
Apa pun, kini teknologi baru telah tersedia bagi para aspiran politik yang sedang mendambakan kekuasaan. Memang untuk berbagai negara, terkait dengan infrastruktur yang terpasang, masih banyak dianalisis, mana teknologi yang paling efektif dari teknologi tersebut. Salah satu analisis disampaikan pakar komunikasi Ade Armando dalam Seminar Asosiasi Ilmu Politik Indonesia di Banjarmasin pertengahan April silam. Karena internet masih terbatas di kota-kota besar, televisi dan media cetak dipercayai masih pemegang peranan terbesar dalam pemanfaatan teknologi media untuk politik.
Masalahnya, media yang besar pengaruhnya itu juga tidak selamanya bebas nilai. Pada masa lalu, Hitler menjadikan media untuk propaganda besar-besaran bagi cita-cita Nazi-nya (lihat Media and Society in the Twentieth Century, Gorman & McLean, 2003). Orde Baru juga melakukan hal yang sama.
Bahkan, karena besarnya pengaruh media seperti televisi, sosok seperti PM Italia Silvio Berlusconi dan keluarganya mengontrol jaringan penyiaran swasta Mediaset, yang diperkuat dengan tiga kanal terestrial (Financial Times, 13/6).
Selain untuk memengaruhi rakyat pemilih, medium seperti televisi juga besar peranannya dalam penyebaran nilai. Jadi, tidak heran apabila pemilik modal—apalagi yang punya cita-cita politik—tak ragu untuk berinvestasi besar dalam pertelevisian.
Di era pemilihan, politisi akan semakin luas memanfaatkan teknologi baru media.
Disajikan kembali oleh : Marsela Chikita Yoh.S
X MM 1/ 17

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Pertemuan Du/di se Kota Solo

SMKN 6 Surakarta baru-baru ini mengadakan temu wajah dengan instansi pasangan (dunia industri ) guna melakukan sinkronikasi kurikulum dengan pihak sekolah . Hadir dalam acara tersebut lebih kurang 60 dudi terdiri dari Dudi untuk akuntansi, Sekretrasi, Multimedia, UJP dan penjualan.

Acara diselenggarakan kamis, tanggal 11 Desember 2008 jam 12.00 wib, Acara dibuka oleh kepala dinas kota surakarta dan pengawas serta sambutan kepala sekolah dan dilanjutkan diskusi kelompok

Demikian, dalam hal ini dudi siap menerima magang siswa tahun depan antara 2-3 bulan tahap pertama.

pson-admin

Posted in Pendidikan | Leave a comment

Teknologi Handphone

Sejarah dan Perkembangan Handphone

Oktober 6, 2008 rana08

Teknologi ini mulai digunakan tahun 1970 yang diawali dengan penggunaan mikroprosesor untuk teknologi komunikasi. Dan pada tahun 1971, jaringan handphone pertama dibuka di Finlandia bernama ARP. Menyusul kemudian NMT di Skandinavia pada tahun 1981 dan AMPS pada tahun 1983. Penggunaan teknologi analog pada generasi pertama menyebabkan banyak keterbatasan yang dimiliki seperti kapasitas trafik yang kecil, jumlah pelanggan yang dapat ditampung dalam satu sel sedikit, dan penggunaan spektrum frekuensi yang boros.
Di sisi lain, meningkatnya jumlah pelanggan tidak bisa ditampung generasi pertama. Selain itu, teknologi 1G hanya bisa melayani komunikasi suara, tidak seperti 2G yang bisa digunakan untuk SMS. NMT atau Nordic Mobile Telephone adalah jaringan handphone analog yang pertama kali digunakan secara internasional di Eropa Utara. Jaringan ini beroperasi pada frekuensi 450 MHz sehingga sering disebut NMT-450, ada juga NMT-900 yang beroperasi pada frekuensi 900 MHz.
Mengingat tuntutan pasar dan kebutuhan akan kualitas yang semakin baik, lahirlah teknologi generasi ke dua atau 2G. Generasi ini sudah menggunakan teknologi digital. Teknologi 2G lainnya adalah IS-95 CDMA, IS-136 TDMA dan PDC. Generasi kedua selain digunakan untuk komunikasi suara, juga bisa untuk SMS dan transfer data dengan kecepatan maksimal 9.600 bps (bit per second). Sebagai perbandingan, modem yang banyak digunakan untuk koneksi internet berkecepatan 56.000 bps (5,6 kbps). Kelebihan 2G dibanding 1G selain layanan yang lebih baik, dari segi kapasitas juga lebih besar. Karena pada 2G, satu frekuensi bisa digunakan beberapa pelanggan dengan menggunakan mekanisme Time Division Multiple Access (TDMA).
Standar teknologi 2G yang paling banyak digunakan saat ini adalah GSM (Global System for Mobile Communication), seperti yang dipakai sebagian besar handphone saat ini. GSM beroperasi pada frekuensi 900, 1800 dan 1900 MHz. GSM juga mendukung komunikasi data berkecepatan 14,4 kbps.

Continue reading

Posted in teknologi | Leave a comment

CANON LUNCURKA DIGITAL SLR CANGGIH, SERI EOS 30D, DENGAN 8.2 MP

CANON LUNCURKA DIGITAL SLR CANGGIH, SERI EOS 30D, DENGAN 8.2 MP

T. Datascrip sebagai distributor tunggal Canon digital camera di Indonesia kembali meluncurkan produk unggulannya, Canon Digital EOS 30D – 8.2 megapiksel sebagai penerus EOS 20D. Canon Digital EOS 30D ditujukan sebagai solusi terpadu bagi fotografer profesional dan sangat cocok digunakan pada berbagai kondisi pengambilan foto.

“Nama Canon EOS telah dipercaya sejak lama oleh para fotografer profesional di seluruh dunia karena berkualitas tinggi,” kata Merry Harun, Director Canon Division PT. Datascrip. “Fotografer juga akan menikmati sistem lensa EOS yang lengkap beserta aksesoris yang dapat memperluas kreativitasnya,“ tambahnya.

Canon EOS 30D dilengkapi dengan fitur CMOS sensor 8.2-megapiksel, prosesor gambar DIGIC II dan optical low pass filter dengan konfigurasi 3-layer memberi hasil gambar yang sangat bagus dan berkualitas profesional. Fitur lainnya telah ditingkatkan dan diperbaharui, termasuk shutter yang kini telah mencapai hingga 100.000 cycles dan shutter lag 65 msec. Canon EOS 30D memiliki body yang terbuat dari magnesium alloy yang memastikan kekokohannya, tahan terhadap goncangan dan melindungi mesin di dalamnya.

Gambar Super & Operasional Kamera Super Cepat

Generasi ke-2 sensor CMOS 8.2-Megapiksel berukuran APS-C yang dibangun dan dikembangkan oleh Canon, memberikan 8.2 juta piksel efektif (3,520 horizontal x 2,342 vertical). Menghasilkan foto berkualitas tinggi karena sirkuit pengurang noise telah terintegrasi langsung pada sensor CMOS agar foto yang dihasilkan bebas noise. Untuk eksposure yang lebih lama di mana biasanya akan muncul noise elektrik, fungsi otomatis pengurang noise yang dapat diset pada kamera membuat foto bersih dan tajam bahkan pada malam hari. Rangkaian ISO speed dari 100 – 1600 dapat ditingkatkan hingga 3200 untuk kemudahan pengambilan gambar dengan berbagai kondisi pencahayaan.

Prosesor gambar khas Canon, DIGIC II menghasilkan pemrosesan gambar super cepat karena mempekerjakan teknologi algoritma Canon yang menghasilkan gambar cemerlang, beresolusi tinggi, natural, warna yang hidup, dan tentunya gradasi warna yang kaya. Tambahannya, prosesor DIGIC II mempercepat waktu pemrosesan gambar dengan menerjemahkan gambar secara instan. Waktu start up hanya 0.15 detik, continuous shooting 5fps (dengan pilihan 3fps untuk kebutuhan continuous shooting yang lebih lambat) dan burst frame yang lebih banyak hingga 11 frame (RAW) dan 30 frame (JPEG berukuran Large/Fine). EOS 30D sangat efisien dalam mengkonsumsi energi, sehingga dapat dipakai memotret lebih lama tanpa penukaran batere.

Peningkatan Fitur Sesuai Saran Pengguna

Berbagai peningkatan telah diintegrasikan pada EOS 30D, sesuai dengan keinginan pemakai Canon EOS digital SLR generasi sebelumnya. Fungsi spot-metering hadir dengan peningkatan pada mesin optik sehingga EOS 30D kini dilengkapi dengan 4 pilihan mode metering: Evaluative, Partial, Centre-weighted average dan Spot-metering. Untuk meningkatkan keluwesannya, pengaturan ISO pun lebih fleksibel. Kini pengguna bisa mencocokkan kondisi pengambilan foto yang berbeda-beda – pengaturan ISO dapat dilakukan dengan kenaikan 1/3-stop atau 1/2-stop. Fungsi 9-point AF dengan sensor f/5.6 dan AF f/2.8 (sensor horizontal) berpresisi tinggi menjamin pengambilan gambar berkali-kali dengan fokus yang cemerlang, sangat bermanfaat untuk aplikasi profesional. Fungsi playback hasil foto juga telah ditingkatkan pada EOS 30D. Pengguna dapat cek gambar mereka dengan menggunakan layar TFT seluas 2.5” dengan sudut pandang gambar yang lebih luas. Layar info yang lebih ditingkatkan juga memungkinkan pengguna untuk melihat informasi gambar seperti ukuran & format file juga histogram RGB.

Picture Style

Fungsi Picture Style mensimulasikan berbagai tipe film, membuat fotografer mampu meraih kualitas gambar optimum di berbagai kondisi pengambilan foto. Picture Style bisa diatur dalam 6 mode: Standard, Portrait, Landscape, Neutral, Faithful dan Monochrome. Dengan Picture Style, hasil respon warna menjadi terang seperti yang dihasilkan oleh film. Ketajaman, kekontrasan, tone dan saturasi warna dapat diatur dengan fungsi ini.

Pencetakan & Konektivitas

Canon EOS 30D kompatibel dengan PictBridge untuk pencetakan foto langsung dari kamera ke printer dan ditunjang dengan fitur konektivitas USB 2.0 Hi-Speed untuk menjamin kecepatan transfer file. Ketika digunakan dengan printer Canon dengan standar PictBridge, fungsi-fungsi PictBridge yang lebih ditingkatkan akan muncul, seperti 35-image contact sheet index printing; Exif information printing; fungsi Face-brightener, mampu mengikuti berbagai ukuran kertas dan berbagai tambahan lainnya. Fungsi cropping (trimming) juga tersedia untuk mengatur ukuran dan komposisi sesuai frame. Untuk keakuratan hasil pencetakan, EOS 30D juga memiliki kemampuan untuk mencetak sesuai dengan karakter warna kamera dengan bermacam fitur koreksi warna pada printer.

Aksesoris dan Software Opsional

Software yang terdapat pada kemasan Canon EOS 30D adalah EOS Digital Solution Disk 12.0 dan Digital Photo Professional 2.1 untuk pemrosesan dan pengeditan gambar. Aksesoris opsional pendamping EOS 30D yang ada termasuk Battery Grip (BG-E2) dan data verification kit (DVK-E2) yang akan dibutuhkan untuk otentifikasi gambar. Canon Digital EOS 30D (body only) dipasarkan seharga 1.450 USD [Rp.14 juta] atau bila dilengkapi Canon Lens EF-S 18-55mm menjadi 1.550 USD [Rp.15,5 juta].

Sumber : http://www.ilmukomputer.com

Disajikan kembali oleh:

Nunung Mistyanti_20_X MM1

Posted in Uncategorized | Leave a comment