Media Masa & Pertelevisian di Indonesia

Media massa menurut mbah wiki adalah media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Jadi contoh dari media massa ini adalah televisi, radio, koran, dan majalah.

Selama hampir tiga tahun berkuliah di negeri tetangga ini, saya memang tidak begitu mengikuti perkembangan berita terkini melalui media massa yang tersedia (baca: media massa di Singapura); saya hampir tidak pernah menonton siaran televisi ataupun membaca koran. Hal ini mungkin karena saya kurang begitu tertarik dengan perkembangan ekonomi atau politik di Singapura.

Continue reading

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

teknologi terbaru keyboard bluetooth

teknologi keyboard yang terbaru adalah keyboard yang memiliki kemampuan Bluetooth supaya dapat mengkombinasikannya dengan alat lain yang kompatibel.

Kalau selama ini para pengguna masih memakai keyboard ‘biasa’ dapat mencoba untuk beralih ke keyboard keluaran yang terbaru ini dan juga dilengkapi dengan teknologi nirkabel Bluetooth di dalamnya.

Seperti keyboard yang biasanya hanya saja keyboard ini dengan mudah dapat dikombinasikan dengan device lain yang kompatibel. Misalnya dengan PDA (Personal Data Assistant), atau ponsel pintar (smartphone) yang juga memiliki kemampuan Bluetooth dan memiliki basis Symbian.

Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Songsong Era Pertelevisian Baru

Saat ini sebenarnya pertelevisian Indonesia sedang memasuki saat-saat yang mendebarkan dengan adanya rencana penerapan penyiaran televisi secara digital. Kondisinya sangat berbeda dengan negara-negara maju yang wilayahnya kecil dan penduduknya berpenghasilan besar. Kemiskinan menyebabkan hal yang sebenarnya bersifat teknis itu menjadi sangat sensitif.

Sekitar 10 tahun lalu gagasan mengubah sistem penyiaran (transmisi) secara analog menjadi digital sempat meresahkan masyarakat karena khawatir pesawat televisi miliknya tidak bisa digunakan lagi. Apalagi bagi yang baru membeli pesawat TV karena pada saat itu era televisi swasta juga baru mulai menggeliat.

Situasi waktu itu memang terdorong oleh aktivitas stasiun TV swasta baru (analog) yang masih harus berhadapan dengan para pemilik televisi hitam-putih, di mana tayangan program stasiun TV yang baru mulai beroperasi harus juga bisa ditangkap oleh pesawat TV hitam-putih, yang masih dimiliki sebagian masyarakat saat itu.

Era hitam-putih memang sudah jauh berkurang sekarang ini karena memang sudah hampir tidak ada produk TV hitam-putih yang diproduksi lagi. Secara relatif berkurang karena jumlah pesawat berwarna secara persentase menjadi jauh lebih besar, sehingga ketika ada isu pemancar TV akan diubah ke sistem digital waktu itu menjadi sangat sensitif. Dan, kekhawatiran ini bisa muncul kembali ketika perekonomian masyarakat tidak juga membaik saat pemerintah merencanakan migrasi ke siaran TV secara digital.

Saat ini seluruh pemancar TV (terrestrial) yang ada di Indonesia masih analog sehingga kebanyakan pesawat TV penerima juga masih analog meski memiliki banyak fitur digital. Tentu migrasi tersebut akan dengan mudah dikatakan pesawat penerima itu tidak bisa digunakan lagi menangkap siaran TV digital, kecuali diberikan perangkat tambahan untuk mengubah modulasi digital ke analog.

Di dunia sekarang ini baru ada dua negara yang seluruh stasiun televisinya sudah digital, yaitu Luksemburg (sejak 1 September 2006) dan Belanda (11 Desember 2006). Tahun 2007 setidaknya ada empat negara menyusul, yaitu Austria, Swedia, Finlandia, dan Swiss. Secara bertahap negara-negara besar juga dalam perjalanan menuju hal sama, antara lain Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Australia, dan China.

Bagaimana Indonesia

Pemilik pesawat TV konvensional nantinya memang harus menyediakan sebuah kotak konversi sinyal radio dari digital ke analog yang lazim disebut set-top box. Namun, yang terjadi di Indonesia, selain masalah sosial, siapa yang harus membelikan set-top box. Demikian pula standar televisi digital yang mana yang akan diambil.

Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KOMPUTER JINJING

Komputer jinjing (populer dalam bahasa Inggris: laptop, notebook, atau powerbook) adalah komputer bergerak yang berukuran relatif kecil dan ringan, beratnya berkisar dari 1-6 kg, tergantung ukuran, bahan, dan spesifikasi laptop tersebut.

Sumber daya komputer jinjing berasal dari baterai atau adaptor A/C yang dapat digunakan untuk mengisi ulang baterai dan menyalakan laptop itu sendiri. Baterai laptop pada umumnya dapat bertahan sekitar 1 hingga 6 jam sebelum akhirnya habis, tergantung dari cara pemakaian, spesifikasi, dan ukuran baterai.

Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PERTELEVISIAN INDONESIA

Siapa yang tidak tahu televisi? Ya, tentu saja semua orang pasti sudah mengetahui apa itu televisi. Televisi merupakan salah satu media elektronik yang menayangkan siaran-siaran pertelevisian yang memberikan informasi dan hiburan bagi masyarakat. Dan bahkan sekarang hampir semua orang telah memilikinya. Karena dewasa ini televisi sudah dianggap olah masyarakat sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi.

Di Indonesia stasiun televisi yang online sangatlah banyak sehingga siarannya pun sangat bervariasi. Contohnya saja seperti siaran berita, film, sinetron, gosip, rality show, dan banyak lagi yang lainya. Dengan adanya banyak siaran seperti ini maka para konsumen/penonton tidak bosan dan dapat memilih siaran yang mereka sukai.

Lalu siaran apakah yang paling banyak disukai di Indonesia? Memang siaran televisi di Indonesia sangatlah banyak dan penggemarnya pun ada sendiri-sendiri di setiap siaran televisi. Tetapi yang paling mendominasi atau sering ditonton masyarakat adalah sinetron. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan banyak stasiun televisi yang menyiarkan sinetron dibandingkan dengan berita ataupun siaran tentang pendidikan. Oleh sebab itulah sinetron lebih mendominasi pertelevisian Indonesia.

Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MENGENAL TEKNOLOGI GAMBAR TV

Saat TV LCD dan plasma mulai memenuhi display toko-toko elektronik, banyak orang berpikir bahwa era TV tabung sinar katoda (cathoda ray tube-CRT) akan segera berakhir—bernasib sama dengan produk-produk usang lainnya. Tapi ternyata tidak. Si ’kotak gendut’ yang ’menggendong’ tabung besar di belakangnya ini ternyata masih diminati oleh pasar. Kita masih menjumpai lebih banyak TV CRT yang terpajang di toko-toko elektronik super modern, apalagi di toko-toko elektronik tradisional. Sepintas lalu, LCD dan plasma memang menjadi buah bibir para penikmat hiburan. Gambarnya yang jernih, modelnya yang tipis dan fleksibilitas yang dimilikinya (bisa ditaruh di atas meja atau digantung di tembok) benar-benar memukau konsumen. Sangat sinkron dengan gaya interior modern yang lebih condong ke format minimalis dan artistik. Kualitas gambarnya pun di atas rata-rata TV CRT yang kemudian dicap sebagai ’televisi konvensional’.

Tapi ternyata era TV CRT masih terus bergulir, khususnya di segmen pasar yang sensitif terhadap harga. Bila dibandingkan dengan TV LCD maupun plasma, TV tabung memang relatif lebih terjangkau. Konsumsi listriknya pun lebih irit. Meskipun penjualan TV LCD dan plasma terus meningkat dari tahun ke tahun (antara lain disebabkan turunnya harga), TV CRT masih menguasai pangsa para di Indonesia—juga dunia. Melihat pertumbuhan pasar TV CRT yang menunjukkan tren naik, para produsen televisi berlomba-lomba melakukan inovasi (atau bisa disebut evolusi) baik dalam hal teknologi tampilan gambar, output suara maupun desain fisik. Semua perbaikan dan perubahan ini dilakukan sesuai selera pasar. Bahkan saat ini TV CRT sudah memasuki era layar datar (flat screen) yang juga menjadi platform utama TV LCD dan plasma.

Pangsa pasar TV CRT pun melebar ke segmen C, C+ dan B. Di segmen ini, konsumen cenderung mengutamakan tampilan suatu produk. Dan keinginan itu sudah dipenuhi dengan baik oleh para manufaktur dengan menghadirkan produk-produk berdesain tipis dan modern—mendekati tampilan TV LCD dan plasma.

Ada juga yang menciptakan televisi dalam balutan warna-warni mencolok untuk pasar anak muda. Ya, televisi dengan kerangka tipis memang sedang digandrungi oleh pasar. Tapi, asal tahu saja, kualitas gambar juga menjadi aspek penting yang juga terus dikembangkan oleh produsen televisi. Pasalnya, kualitas gambar juga menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli televisi, selain tampilan desain tadi.

Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Speaker: Stereo 2.1 dan Surround 5.1

Teknologi stereo adalah lompatan besar dari teknologi sebelumnya – disebut mono – dimana suara dibagi dan disalurkan ke dua kanal (channel) terpisah.

Lompatan teknologi berikutnya adalah surround dimana suara dibagi dan disalurkan ke lebih dari dua / banyak kanal (multi-kanal).

Sistem komputer masa kini umumnya sudah mendukung baik teknologi stereo maupun surround.

Stereo 2.1

Keberadaan teknologi surround tidak berarti kesudahan teknologi stereo.

Jika dibandingkan dengan surround teknologi stereo unggul dalam hal respons frequensi (frequency response).

Efek teknologi stereo membuat respons frequensi cenderung merata sehingga membuat suara yang dihasilkan mempunyai detail yang begitu tinggi (akurat).

Bagi penikmat musik detail suara adalah faktor utama karena dengan suara yang mendetail keindahan komposisi suara yang disajikan oleh si pembuat musik terdengar jelas.

Produk speaker untuk stereo umumnya terdiri dari sepasang speaker saja atau sepasang speaker satelit dan satu speaker woofer , sistem ini biasanya disebut Stereo 2.1.

Yang dimaksud dengan speaker satelit adalah speaker yang menghasilkan suara menengah-ke-tinggi. Sedangkan Woofer (juga sering disebut sub-woofer) adalah speaker yang menghasilkan suara rendah.

Masing-masing unit satelit dan woofer dapat terdiri dari satu, dua speaker atau lebih.

Gambar speaker 2.1 (dua satelit dan 1 woofer)
Speaker 2.1 (dua satelit, satu sub woofer)

Gambar speaker 5.1 (lima satelit dan 1 woofer)
Speaker 5.1 (lima satelit, satu subwoofer)

Surround 5.1

Continue reading

Posted in Uncategorized | 1 Comment